Jika pasien menjalani hemodialisis dua kali dalam seminggu, biaya klaim dapat mencapai sekitar Rp6,5 juta hingga Rp9,6 juta per bulan, belum termasuk biaya transportasi dan kebutuhan nonmedis lainnya.
Bagi Rudi, mengenal CAPD bukan hanya soal mengganti metode pengobatan, tetapi juga kesempatan untuk kembali memiliki kendali atas kehidupan sehari-harinya.
Meski telah tersedia dalam sistem kesehatan nasional, pemanfaatan CAPD di Indonesia masih tergolong rendah. Pemerintah menargetkan setidaknya 10 persen pasien dialisis menggunakan terapi ini sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan rujukan.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada mesin hemodialisis sekaligus meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.
Tony menilai salah satu kendala utama rendahnya penggunaan CAPD adalah kurangnya edukasi mengenai pilihan terapi bagi pasien gagal ginjal.
Di beberapa negara lain, pasien biasanya mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai berbagai pilihan terapi sebelum memulai dialisis. Misalnya, di Malaysia pasien diberikan informasi mengenai hemodialisis maupun peritoneal dialysis sehingga dapat menentukan metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka.
Di Indonesia, edukasi semacam itu belum selalu menjadi bagian dari proses pelayanan.