JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali membagikan konten edukatif melalui Instagram bgsadikin dalam konten video Budi Gemar Sharing #BGS. Kali ini, ia menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang langsung kalap makan dalam porsi besar saat berbuka puasa.
Apalagi kebiasaan ini sering terjadi saat agenda buka bersama (bukber) selama Ramadhan.
“Begitu bedug berbunyi langsung dilahap semua makanan sekaligus dalam waktu yang sangat singkat. Itu nggak sehat banget,” ujar Budi.
Menurutnya, kebiasaan makan berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu gangguan pencernaan, salah satunya gastroesophageal reflux disease (GERD) yang kini disebutnya cukup sering dialami generasi muda, khususnya generasi Z. Budi menjelaskan, makan dalam jumlah banyak secara cepat membuat lambung bekerja lebih berat.
Kondisi ini dapat memicu naiknya asam lambung yang menimbulkan rasa tidak nyaman di dada dan tenggorokan. Ia juga menyoroti jenis takjil yang tinggi lemak dan berbumbu kental.
Konsumsi makanan semacam itu dalam jumlah besar saat perut kosong bisa membuat tubuh terasa begah dan mengantuk. Alhasil, orang akan merasa ngantuk ketika waktu salat tarawih.
“Kalau takjilnya banyak bumbu, banyak lemak, nanti bikin ngantuk. Saat salat tarawih jadi nggak fokus,” katanya.
Budi mengingatkan bahwa tujuan utama puasa bukanlah “balas dendam” makan setelah seharian menahan lapar dan haus. Ia mengatakan, jika puasa diniatkan untuk ibadah, maka akan memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh.
“Puasa itu tujuannya bukan untuk makan enak, tapi untuk ibadah. Kalau kita ibadah, insya Allah kita juga jadi sehat,” ujarnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk berbuka secara bertahap, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan komposisi gizi agar ibadah Ramadhan dapat dijalani dengan optimal tanpa gangguan kesehatan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)