Menurutnya, cokelat compound dipilih karena lebih kuat dan stabil pada suhu ruang dibanding jenis cokelat lain. Teksturnya yang lebih padat juga membuat miniatur tidak mudah rapuh.
“Cokelat compound lebih tebal dan tidak mudah rusak. Di Indonesia memang lebih banyak menggunakan jenis ini karena lebih tahan di suhu ruang,” jelasnya.
Ia mengakui bagian tersulit adalah membuat detail ornamen kecil seperti jendela, pintu, dan kubah. Proses pengerjaan yang hanya berpedoman pada foto dari internet itu memakan waktu hampir satu bulan.
“Yang paling sulit detail seperti jendela, pintu, dan kubah. Total pengerjaan hampir satu bulan,” ungkapnya saat ditemui Jumat (20/2/2024).
Rencananya, miniatur masjid cokelat tersebut akan dipamerkan di restoran hotel dengan suhu ruangan 10 derajat Celsius selama Ramadan. Setelah bulan suci berakhir, cokelat akan didaur ulang untuk dibuat miniatur lainnya.
(Rani Hardjanti)