JAKARTA – Usai merayakan Imlek 2026, Vihara Dharma Jaya atau Kelenteng Toasebio sudah menyiapkan rencana untuk perayaan Cap Go Meh dengan menggelar Lok Thung pada 8 Maret 2026 mendatang.
Kepala Pengurus Kelenteng Toasebio, Tjandra Santoso, mengatakan bahwa Lok Thung atau yang kerap dikenal dengan praktik Tangsin merupakan tradisi berupa ritual keagamaan khas yang melibatkan peran sosok yang dipercaya menjadi mediator bagi roh suci untuk membantu umat.
"Lok Thung itu orang yang dimasuki roh suci untuk membantu umat-umat yang membutuhkan bantuan. Contohnya, misalkan dia sedang sakit, dia curhat dengan kita, kita bilangnya itu pelayanan Tangsin," kata Tjandra saat diwawancarai melalui saluran telepon, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam Lok Thung akan ada satu mediator yang dirasuki oleh roh suci yang akan memberikan saran dan kesembuhan bagi para umat yang sedang menghadapi permasalahan. Bentuk penanganannya disesuaikan dengan kebutuhan umat.
Nantinya, solusi yang diberikan bisa berupa media air, doa-doa khusus, hingga saran tindakan tertentu yang harus dilakukan demi mencapai kesembuhan atau ketenangan batin.
"Dia curhat dan dikasih obat. Obatnya macam-macam, antara lain berupa air, doa-doa yang diberikan oleh si Lok Thung (melalui mediator) tersebut, atau disarankan begini-begini untuk mencapai kesembuhan," jelas dia.
Dalam kepercayaan umat Kong Hu Cu, kehadiran roh suci melalui tubuh mediator dalam ritual Lok Thung ini dipercaya mampu membawa keberkahan, seperti menjauhkan kemalangan hingga memberikan pengampunan atas kekhilafan yang dilakukan oleh para umat yang hadir.
"Hari-hari tertentu kita adakan pelayanan itu untuk tolak bala yang pertama. Kedua, mengurangi dosa-dosa umat yang waktu itu hadir ke kelenteng ketika si Lok Thung ini melakukan pelayanan," tutur Tjandra.
Meski digelar dalam rangka Cap Go Meh, pelaksanaannya akan dilakukan pada 8 Maret 2026. Jadwal tersebut diputuskan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan partisipasi umat yang lebih luas, mengingat hari perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari kerja.
"Karena tanggal 3-nya itu hari biasa, kita buat di tanggal 8 nanti, Maret, hari Minggu. Karena kalau hari biasa orang masih kerja dan segala macam, jadi kita undur ke tanggal 8," beber dia.
Lebih lanjut, Tjandra memaparkan bahwa gelaran ritual Lok Thung ini akan dilaksanakan di Kelenteng Toasebio sejak pagi hari. Sebanyak empat orang suhu (guru spiritual) yang memiliki ikatan sejarah kuat dengan kelenteng ini dipastikan akan hadir untuk memimpin jalannya prosesi yang diperkirakan berlangsung selama beberapa jam.
"Kita akan mulai dari jam 08.00 pagi jika tidak ada halangan. Kebetulan suhunya itu ada empat orang. Mereka dari luar vihara dan remaja Toasebio yang dulunya pernah menjadi umat. Mereka diundang kembali dan akan datang karena merasa sebagai anak angkat," papar Tjandra.
Ia menekankan bahwa Lok Thung bersifat inklusif dan dapat disaksikan atau diikuti oleh masyarakat umum di luar umat Tionghoa. Siapa pun yang merasa membutuhkan bantuan atau sekadar ingin menyaksikan tradisi ini diperbolehkan hadir.
"Masyarakat umum boleh melihat, dan masyarakat umum pun boleh, misalkan percaya atau ingin disembuhkan atau ingin dibantu, silakan," tandas dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)