JAKARTA – Pertanyaan mengenai mengapa Korea Selatan kerap disebut sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat rasisme tinggi sering muncul dalam berbagai diskusi internasional. Isu ini berkaitan dengan dinamika sosial, sejarah, dan perubahan demografis yang terjadi di negara tersebut.
Perlu dipahami, generalisasi bahwa suatu negara “rasis” tentu tidak mewakili seluruh masyarakatnya. Namun, sejumlah pengamat menilai masih ada tantangan besar terkait penerimaan terhadap keberagaman di Korea Selatan.
Menurut Gi-Wook Shin, akademisi dari Stanford University yang banyak meneliti nasionalisme Korea, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi fenomena ini.
Salah satu faktor utama adalah kuatnya nasionalisme yang berakar pada konsep homogenitas etnis. Selama bertahun-tahun, Korea Selatan memandang dirinya sebagai bangsa yang relatif seragam secara etnis dan budaya.
Konsep ini membuat sebagian masyarakat memandang orang asing atau kelompok minoritas sebagai “orang luar”. Dalam kondisi tertentu, persepsi ini bisa memicu sikap eksklusif atau diskriminatif.