Secara ilmiah, para peneliti menjelaskan bahwa dampak negatif daging olahan berasal dari beberapa mekanisme biologis. Salah satunya adalah terbentuknya senyawa karsinogenik selama proses pengolahan dan pemasakan, seperti pengasapan, pengawetan dengan nitrit, serta pemanggangan pada suhu tinggi.
Proses tersebut dapat menghasilkan zat yang berpotensi merusak sel dan memicu pertumbuhan sel abnormal. Selain itu, konsumsi daging olahan juga dikaitkan dengan peradangan kronis dalam tubuh.
Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan adanya gangguan pada mikrobioma usus akibat konsumsi daging olahan secara rutin. Ketidakseimbangan bakteri baik di usus dapat memengaruhi sistem imun dan meningkatkan risiko terbentuknya sel kanker, khususnya pada saluran pencernaan.
Konsumsi berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan metabolisme yang dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan risiko penyakit jantung.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk gaya hidup, aktivitas fisik, dan faktor genetik. Karena itu, pendekatan yang dianjurkan adalah menjaga pola makan secara keseluruhan.
Masyarakat disarankan untuk membatasi konsumsi daging olahan dan menggantinya dengan sumber protein yang lebih sehat seperti protein nabati, ikan, atau unggas. Penambahan asupan serat dari sayur, buah, dan biji-bijian juga penting untuk mendukung kesehatan usus serta membantu menekan pembentukan senyawa karsinogenik.
Perubahan kecil dalam pola makan sehari-hari dinilai dapat menjadi langkah preventif untuk menurunkan risiko kanker dalam jangka panjang.
(Rani Hardjanti)