Berbagai faktor meningkatkan risiko kanker, antara lain penggunaan tembakau, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta paparan polusi udara. Negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi tantangan yang lebih besar, mulai dari rendahnya tingkat edukasi, keterlambatan diagnosis, hingga keterbatasan akses terhadap pengobatan yang terjangkau.
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang kanker sering menyebabkan pasien baru mencari pertolongan medis saat penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Kondisi ini memperburuk peluang kesembuhan dan meningkatkan angka kematian. Oleh karena itu, Hari Kanker Sedunia menjadi pengingat penting akan urgensi edukasi, skrining rutin, dan pencegahan kanker sejak dini.
Hari Kanker Sedunia bermula dari KTT Dunia Melawan Kanker untuk Milenium Baru yang diselenggarakan di Paris pada 4 Februari 2000. Dalam pertemuan tersebut, disepakati Piagam Paris, yang menjadi dasar komitmen global untuk meningkatkan penelitian kanker, pencegahan, perawatan pasien, serta kampanye kesadaran di seluruh dunia.
Meski tidak semua jenis kanker dapat dicegah, risiko penyakit ini dapat dikurangi melalui penerapan gaya hidup sehat. Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:
Hari Kanker Sedunia menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa pencegahan, deteksi dini, dan akses pengobatan yang adil adalah kunci utama dalam menurunkan beban kanker di seluruh dunia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)