Penjual kopi keliling atau biasa dikenal Kopi Starling (Starbuck Keliling) menjamur di ibu kota Jakarta. Salah satunya Starling Senopati, penjual Kopi Starling yang ada di wilayah Jakarta Selatan.
Para penjual kopi ini merupakan perantau. Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah Madura. Di Jakarta, mereka harus tinggal secara bersamaan sembari mengumpulkan pundi-pundi rezeki.
Okezone berkesempatan untuk mengunjungi rumah tinggal para penjual Kopi Starling ini. Lokasi tinggal mereka berada di kawasan elit yakni di Senopati Dalam.
Akses yang mudah dijangkau menjadi salah satu pertimbangan dari para pengelola Kopi Starling Senopati ini. Dari rumah tersebut, akses menuju kawasan Gelora Bung Karno, Sudirman, Senopati, SCBD, wilayah Patal Senayan, serta perkantor di Senayan pun sangat mudah digapai.
Mereka tinggal di rumah berukuran sekira 120 meter persegi, yang dihuni puluhan penjual Kopi Starling. Meski tidak besar, namun biaya kontrakan di rumah tersebut terbilang fantastis.
"Kontrakannya bayar Rp100 juta per tahun," kata Subhan Zaki, pengelola Klaster BRI Starling Senopati, saat ditemui Okezone.
Untuk mencapai ke sana, Anda bisa menggunakan mobil namun hanya sampai di ujung gang. Masuk ke lokasi, akses jalan atau sepeda yang hanya bisa dilalui.
Pasalnya, sebelum masuk ke dalam rumah tinggal tersebut, kita harus menyusuri gang sepanjang 2 meter dengan lebar 70 sentimeter. Belum lagi akses jalan yang berlumpur serta genangan air jika hujan, akan menjadi tantangan tersendiri ketika melewatinya.
Ketika berada di ujung gang, Anda akan mendapati bangunan semi permanen. Rumah tersebut memiliki dua bangunan yakni rumah induk dan rumah berukuran dua lantai yang bersebelahan.
Di bangunan rumah induk terdapat Toko Aliafan yang berada sangat mencolok. Iya toko tersebut merupakan toko yang menjual semua kebutuhan dari para penjual Kopi Starling.
Mulai dari kopi hitam dalam bentuk saset, aneka kopi susu, jeruk instan, mie dalam kemasan, hingga gelas plastik tersaji lengkap di warung tersebut. Sedangkan di bagian belakang bangunan tersebut digunakan untuk memarkir puluhan sepeda Kopi Starling.
Aktivitas memasak air pun dilakukan di ruang terbuka bagian belakang yang menempel bangunan induk. Sedangkan di bagian belakang kanan bangunan induk, disediakan akses untuk mengambil es dalam plastik yang tersimpan di dalam kotak pendingin.
Untuk menghubungkan akses dari bangunan induk dengan bangunan dua lantai, ditempatkan kayu di bagian atasnya yang berfungsi sebagai lorong. Tidak jauh dari situ terdapat 'bengkel' yang berisi tumpukan spare part dari sepeda.
Sementara itu di bangunan dua tingkat tersebut, terdapat beberapa kamar yang berukuran besar dan luas. Di sana, para penjual Kopi Starling beristirahat secara bersama-sama.
Untuk akses menuju lantai dua, pengelola menyediakan tangga yang terbuat dari kayu. Di bagian bawahnya, disediakan dua kamar mandi untuk aktivitas sehari-hari.
"Mereka tidak dipungut biaya selama tinggal di sini, hanya semua kebutuhan jualan harus mengambil dari warung yang disediakan," tutur Subhan.
(Kemas Irawan Nurrachman)