Faktor-faktor lain seperti motilitas usus, perubahan komposisi bakteri, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk melewati usus juga mempengaruhi bagaimana kentut bisa memiliki bau busuk, menurut Dr. Eric.
Terlebih lagi, ungkapnya, kentut juga terdiri dari udara yang tertelan dan gas yang menyebar dari aliran darah, yang juga tidak berbau. Faktor-faktor ini membuat kentut lebih mungkin terdengar dibandingkan tercium.
Gangguan dan intoleransi juga mempengaruhi cara bakteri menghasilkan gas. Misalnya, pada orang yang tidak toleran terhadap laktosa, karbohidrat laktosa akan berpindah ke bakteri di usus besar, yang dapat menyebabkan kentut berbau atau tidak.
"Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua dalam hal pola makan dan kentut, karena banyak sekali faktor dalam tubuh setiap orang. Di sisi lain, kentut bahkan yang bau sekalipun tidak bisa dihindari, dan kita bisa belajar memaafkan orang lain dan diri kita sendiri atas hal itu," pungkas Dr. Eric.
(Martin Bagya Kertiyasa)