HUJAN gerimis boleh saja mengiringi langkah para model yang melenggang di catwalk Lombok International Modest Fashion Festival (LIMOFF) hari ketiga, Sabtu (8/7/2023) yang diselenggarakan di Merumatta Senggigi Hotel, Lombok, NTB. Namun, pagelaran tetap dilanjutkan dan seluruh desainer berhasil membawakan karya mereka yang tentunya menonjolkan kain tenun dari Lombok.
Ditemui usai fashion show digelar, para desainer dari berbagai daerah mengaku antusias saat mengolah busana yang memadukan wastra Lombok dengan motif dan bahan lain yang umumnya dipakai oleh para desainer dan seringkali menjadi ciri khas dari desainer itu sendiri.
Beragam keunikan tenun NTB seperti motifnya yang beragam dan memiliki makna tersendiri, warna yang mulai mengikuti tren seperti warna-warna soft, penggunaan perwarna alami serta beberapa keunikan lainnya menjadi alasan dibalik kekaguman para desainer terhadap tenun NTB.
Salah satu desainer asal Bandung, Yurita Puji berbagi kisah mengenai koleksinya yang dibuat dari kain tenun hasil dari komunitas perempuan binaannya dimana memang kegiatan utamanya adalah menenun. Inspirasi ini ternyata datang dari disertasi yang dihasilkannya saat menempuh pendidikan S2.
"Tenun Lombok ini dibuat oleh komunitas yang saya bina selama kurang lebih lima tahun. Ini namanya Jarpuk Rindang yang memang menenun. Jadi khusus untuk pemberdayaan perempuan, kita ingin mengangkat itu. Komunitas dan tenun ini merupakan kreasi salah satunya dari disertasi saya,"ungkap Yurita Puji saat dijumpai di Sengigi, Lombok, NTB, Sabtu (8/7/2023).
Adapun motif pada kain tenun yang digunakannya berdasarkan ide kreatif dari anggota komunitas Jarpuk Rindang untuk dikombinasikan dengan beberapa bahan lainnya menjadi busana muslim ready to wear yang ditampilkan di LIMOFF 2023.
"Motif yang saya gunakan khusus punya komunitas sendiri, gak bisa sembarang orang pakai, sudah ada patennya sendiri. Tenun ini dikombinasikan dengan linen dan satin agar lebih mudah perawatannya,"pungkasnya.
Sementara itu, Fellicia Adinda yang merupakan desainer lokal asli NTB mengagumi kain tenun NTB yang menurutnya sangat berkarakter dengan motif dan warna yang cukup variatif.
"Kain tenun NTB itu motifnya dengan berbagai macam makna dan warnanya ada yang soft yang cukup terang, sangat berkarakter,"ujar Fellicia Adinda.
Fellicia Adinda yang memproduksi tas tenun turut mengapresiasi ketekunan dan kesabaran para penenun demi menghasilkan kain tenun yang begitu indahnya.
"Ibu-ibu dalam memproduksi satu lembar tenun itu membutuhkan waktu bisa sampai satu bulan mengerjakan setiap hari, menenun dengan rutin yang akhirnya bisa diproduksi menjadi suatu barang seperti tas merupakan hasil karya yang luar biasa,"pungkasnya.
Keunikan kain tenun NTB juga menyihir Istafiana Candarini dan Afina Candarini, desainer dari brand kami. yang mencoba memadukan kain tenun NTB dengan bahan chiffon dan satin serta motif bunga berbayang yang menjadi koleksi Sombra dari kami. untuk ditampilkan di LIMOFF 2023. Istafiana pun mengagumi kain tenun NTB yang motifnya percampuran antara modern dan etnik sehingga mudah dipadukan dengan motif lainnya
"Uniknya tenun NTB banyak jenisnya, kebetulan kita dapat warna soft jadi memang unik, gak ada yang sama dengan kain lainnya, antik banget. Patternnya cantik, campuran antara modern dan etnik. Jadi dengan motif kita yang modern ini masih nyambung,"ujar Istafiana Candarini.
Istafiana pun begitu antusias melihat beberapa kain tenun NTB yang menggunakan pewarna alam dengan hasil tenun berwarna soft yang tentunya semakin mudah dipadukan dengan kain berwarna lainnya.
"Terlebih udah banyak banget yang menggunakan pewarna alam. Jadi banyak tenun yang lebih mudah dipadukan dengan warna lain,"pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)