KUALITAS udara di DKI Jakarta tengah menjadi sorotan karena dinilai buruk. Berdasarkan dari website AQI-US kalau angka kualitas Jakarta yaitu 136 gram per meter kubik pada Rabu (31/5).
Dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata tahun 2022 di Indonesia yaitu 6,1 kali dari nilai pedoman kualitas udara tahunan WHO. Artinya, tingkat kualitas udara di Jakarta saat ini sangat berbahaya karena tidak sehat bagi kelompok yang berkulit sensitif ( Unhealthy For Sensitive Groups).
Mendengar ini, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), dr. Sita Laksmi Andarini, Sp.P memberikan imbauan agar para orang tua bisa melihat atau rutin mengecek kualitas udara.
Sebab dalam udara ada kandungan sulfur itu disebut polusi, dinilai berbahaya bagi kesehatan anak atau orang yang menghirup udara tersebut. Ini bisa memberi efek samping pada kesehatan seperti alergi, asma hingga kanker.
"Polusi udara itu memang ada partiku meter PM udara dan ada bagian lain dan partikel dan gasnya berbahaya seperti sulfur. Untuk PM sendiri gas tersebut tentu saja menimbulkan gejala gangguan respirasi misalnya batuk alergi, sampai asma," jelas dr Sita dalam Inovasi Pengobatan Kanker Paru melalui JKN di Jakarta, Rabu (31/5/2023).
"Bahkan ada penelitian jangka panjang memang ada kaitan dengan terjadinya kanker, hanya saja memang data lengkapnya tidak ada di saya, nanti saya berikan," sambungnya.
Perlu diketahui, dalam mengukur kualitas udara disebut Particulate Matter (PM2.5) sebuah partikel udara berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2.5 µm (mikrometer). Polusi adalah masuknya bahan berbahaya ke dalam lingkungan. Bahan berbahaya ini disebut polutan, bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
BACA JUGA: