“Jika sudah stadium lanjut, mau alat apa pun, tetap saja hasilnya kurang memuaskan. Angka harapan hidupnya tidak tinggi dan biayanya juga cukup tinggi,” terangnya.
Terkait pembiayaan pengobatan pasien kanker di Indonesia, dr. Soeko menegaskan sampai sekarang masih dalam tahap pembahasan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) karena pembiayaan untuk pengobatan kanker di Indonesia, termasuk dalam program transformasi kesehatan.
Sekadar informasi, penyakit kanker masih menjadi satu dari tiga penyakit tidak menular (PTM) dengan prevalensi dan tingkat kematian tertinggi, selain penyakit jantung dan stroke.
Berdasarkan data Globocan pada tahun 2020, di Indonesia ada 396.914 kasus kanker baru dengan 234.511 kematian akibat kanker.
BACA JUGA:Suku Baduy Kuat Jalan Kaki, Mau Tahu Rahasianya?
BACA JUGA:Bukan Skuamosa Karsinoma, Mendiang Istri Drummer NOAH Ternyata Idap Kanker Neuroendokrin
(Rizky Pradita Ananda)