SAAT menonton film, vlog atau serial tayangan luar negeri, sering kali kita melihat kalau air keran masyarakatnya bisa langsung dikonsumsi sebagai air minum bukan?
Kondisi yang jauh berbeda dengana kehidupan masyarakat di Indonesia, yang tak bisa meminum atau mengonsumsi langsung sumber air minumnya karena harus dimasak, alias dimatangkan terlebih dahulu.
Ya, faktanya memang mengejutkan karena seperti dikutip dari laman resmi UNICEF, Jumat (21/10/2022) merujuk pada data Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga Kementerian Kesehatan Indonesia 2020, diketahui hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia sudah terkontaminasi oleh limbah tinja.
Tercemarnya hampir 70 persen sumber air minum rumah tangga penduduk Indonesia ini, artinya semakin menyuburkan penyebaran penyakit diare. Penyakit diare ini lah yang disebutkan sebagai penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun.
Padahal sanitasi yang bersih dan memadai sangat penting bagi berkelangsungan hidup, terutama anak-anak. Mengingat, sanitasi yang dikelola dengan buruk bisa melemahkan sistem kekebalan anak-anak dan menyebabkan kerusakan permanen atau bahkan kematian.
“Sanitasi yang aman mengubah hidup anak-anak dan menempatkan mereka di jalur untuk bisa mencapai potensi penuh diri mereka,” kata Robert Gass, perwakilan UNICEF.
“Tetapi dengan terlalu banyak anak yang tinggal di lingkungan yang terkena dampak sanitasi yang tidak aman, membahayakan setiap aspek perkembangan mereka,” lanjutnya.
Meski saat ini Indonesia sudah berupaya membuat perubahan ke arah yang lebih baik dalam peningkatan meningkatkan sanitasi dasar. Tapi disebutkan lebih lanjut, nyatanya masih kurang dari 8 persen rumah tangga memiliki toilet yang terhubung ke septic tank tertutup. Begitu juga dengan sedikitnya rumah tangga yang rutin menerima layanan penyedotan lumpur setidaknya sekali dalam lima tahun terakhir.
Hal ini menyebabkan pengelolaan kotoran yang buruk, yang akhirnya merembes menyebar ke lingkungan sekitar dan sumber air terdekat.
Rendahnya kesadaran masyarakat tentang risiko kesehatan masyarakat dari pengelolaan tangki septik yang tidak memadai, ditambah dengan permintaan rumah tangga yang tidak mencukupi untuk layanan penyedotan lumpur tinja jadi salah satu tantangan utama untuk meningkatkan akses ke sanitasi yang aman. Sebab masih banyak keluarga yang tidak memahami pentingnya, terhubung ke sistem saluran air limbah perpipaaan atau tangki septik tertutup air yang dikosongkan secara berkala.
Menindaklanjuti isu sanitasi buruk ini, saat ini diketahui pemerintah Indonesia tengah mengembangkan peta jalan nasional untuk mempercepat akses sanitasi yang dikelola dengan aman, salah satunya bersama dengan UNICEF dan mitra lainnya.
(Rizky Pradita Ananda)