Maka dari itu, pihak rumah sakit harus mempersiapkan sarana dan prasarana yaitu perlengkapan monitoring pasien serta ruangan intensif berupa HCU atau PICU sesuai indikasi.
"Kami meminta kepada rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan deteksi dini terhadap kasus anak yang mengalami gejala penurunan jumlah urin, dilanjutkan dengan menegakkan diagnosis serta melakukan pemeriksaan laboratorium," tegas Yanti.
Kemenkes memastikan bahwa perkembangan kasus gangguan ginjal akut ini akan terus di-update setiap harinya ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, Kemenkes juga coba terus berdialog dengan para ahli untuk mencari tahu etiologi penyakit ini.
"Kami terus melakukan koordinasi dengan lembaga ahli, mau pun ahli yang mungkin bisa membantu menemukan penyebab penyakit misterius ini. Kita juga sudah melakukan penelusuran ke keluarga pasien, mencari tahu apakah ada hal yang bisa menjadi titik terang dari pencarian penyebab penyakit ini,” pungkas Yanti.
Tidak berhenti sampai situ, dilakukan juga tes Covid-19 dan pemeriksaan antibodi Covid-19 untuk mencari tahu apakah ada kaitannya penyakit misterius ini dengan Covid-19.
BACA JUGA:Waspada Gangguan Ginjal Akut, Kemenkes: Anak yang Air Seninya Sedikit Harus Dibawa ke RS
BACA JUGA:Investigasi Kasus Gagal Ginjal Akut Anak, Kemenkes Gandeng WHO
(Rizky Pradita Ananda)