SEBAGAI pekerja, kita memang harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasan. Tapi, terkadang kita harus mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan bagian dari job deskripsi kita.
Memang, menjadi hal wajar ketika hal tersebut harus kita lakukan sesekali. Tapi, ketika tugas tersebut diberikan terus menerus tanpa adanya kebijakan penyesuaian gaji, tentu saja tidak adil untuk karyawan tersebut.
Tidak heran, jika tagar quiet quitting mengemuka sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kerja yang berlebihan, hal itu pun disuarakan terutama di TikTok. Istilah quiet quitting pertama kali muncul di media sosial pada awal 2022.
Tren quiet quitting menggambarkan fenomena karyawan yang menolak bekerja melebihi tanggung jawab mereka. Melalui tren ini, orang-orang ingin menyuarakan pentingnya memberikan batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Biar lebih paham, simak arti, penyebab, dan dampak quiet quitting pada kesehatan mental, seperti dilansir dari KlikDokter.
Awalnya, tren ini banyak dipromosikan oleh karyawan yang memiliki beban kerja berintensitas tinggi. Pekerjaan yang sangat menyita waktu membuat mereka sulit mengembangkan diri di luar pekerjaan dan memperoleh kehidupan yang seimbang.
Media sosial lantas membuat tren quiet quitting menyebar luas dan diterima dengan cepat oleh beragam pekerja lintas profesi. Banyak orang yang merasa senasib ikut tergerak menyuarakan semangat quiet quitting.
Orang-orang yang melakukan quiet quitting tidak melakukan resign alias keluar dari pekerjaan mereka. Disampaikan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, orang yang melakukan quiet quitting hanya membatasi diri untuk tidak bekerja secara berlebih dan melakukan apa yang menjadi tugasnya saja.
Menurut Paula Allen dari Research and Total Wellbeing at LifeWorks, orang yang melakukan quiet quitting enggan melakukan kerja lembur. Mereka juga tidak membalas email di luar waktu kerja.
“Ciri orang yang melakoni quiet quitting berikutnya, yaitu bekerja dan pulang tepat waktu. Lalu, mereka cenderung tidak berminat dengan promosi jabatan sehingga tidak melakukan usaha berlebih untuk mendapatkannya,” kata Paula.
Terdapat beragam penyebab seseorang melakukan quiet quitting, di antaranya:
Upah yang Tidak Seimbang
Lewat tren quiet quitting, makin banyak pekerja yang sadar bahwa upah mereka tidak sebanding dengan beban kerja yang harus dipenuhi. Perusahaan terus mengupayakan tambahan pekerjaan, tetapi tidak memberikan imbalan ataupun bonus yang sepadan. Hal ini mendorong banyak orang menggalakkan quiet quitting.