Filosofi Dodol Betawi, Kuliner Khas Perayaan HUT DKI Jakarta

Novie Fauziah, Jurnalis
Selasa 21 Juni 2022 10:30 WIB
Proses Pembuatan Dodol Betawi (Foto: Dede Kurniawan/MPI)
Share :

Jenang memang agak sedikit berbeda, biasanya lebih lembek daripada dodol, lebih basah berminyak, dan umumnya dijual dalam bentuk lempengan atau plastikan. Jenang diiris sesuai permintaan pembeli. Dodol lebih kering (kesat), dipotong dengan ukuran 2 cm×1 cm×3 cm.

Dodol dikenal sebagai salah satu makanan khas Indonesia disebutkan dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada abad ke-9 pada era Kerajaan Medang, tepatnya pada Kakawin Ramayana bagian 17.112 yang berbunyi: "dwadwal anekawarṇa lakĕtan tape paṅisi len" artinya dodol beraneka rupa, ketan, tapai, dan isian lainnya.

Kemudian dalam Prasasti Gemekan 930 M sisi kanan baris 23 - 24 disebutkan "nañjapan, kurawu, kurima, asam, dwadwal, kapwa madulur malariḥ" yang artinya; dan makanan ringan, seperti kurawu, kurima, asam, dodol, Semuanya diberi penerangan dan mendekat.

Nah, dalam proses pembuatan dodol Betawi dibutuhkan waktu lama dan kerjasama tim yang kuat. Untuk itu filosofi dodol bagi masyarakat Betawi adalah kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan. Maka tak heran, masyarakat Betawi menganggap bahwa pembuatan dodol dapat mempererat persaudaraan.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya