Hilang memori berbeda dengan kasus kelupaan biasa. Seseorang mungkin tidak dapat mengingat sedikit atau banyaknya peristiwa dan kenangan penting di masa lalu. Sejumlah kondisi dapat menyebabkan hilangnya memori pada seseorang, mulai dari cedera otak, trauma, hingga gangguan emosi seperti depresi dan stres akut.
Sebagian besar kondisi ini dapat diobati. Mungkin suatu waktu memori tersebut dapat kembali atau mungkin akan tetap hilang secara permanen, tergantung pada penyebab dan pengobatannya. Selain pengobatan yang tepat, sesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan ialah kondisi mental penderita hilangnya memori itu sendiri.
Ketika seseorang kehilangan memori, pastinya hal ini dapat mengganggu dan mempengaruhi setiap aspek kehidupannya. Kehilangan memori dapat membuat seseorang merasa kebingungan, sendirian, marah pada situasi yang membuatnya sulit.
Berdamai dengan kehilangan memori memang sangat sulit dilakukan, bahkan bagi anggota keluarga dan teman dekat yang harus turut beradaptasi dengan hilangnya memori seseorang. Namun, bukan berarti hal tersebut mustahil dilakukan.
Seperti kisah yang dialami Zen Toronto, seorang wanita Indonesia yang berhasil melawan kehilangan memori dengan cara menulis jurnal dan buku sebagai self-healing dan unlock self-motivation. Saat ini, Zen Toronto telah berhasil menjadi Amazon Bestselling Author untuk personal transformasi dan spiritualitas.
BACA JUGA : Kisah Dokter Hewan Pilih Jadi Aktivis Selamatkan Binatang Terlantar Ketimbang Buka Praktik
Sebagai seorang penyintas yang berhasil memerangi memory loss atau kehilangan memori, Zen Toronto melalui bukunya menunjukkan kepada pembaca bahwa tidak peduli sesulit apa pun yang kita hadapi dalam hidup, adalah mungkin untuk membangun kembali kehidupan yang bermakna dengan rantai efek positif abadi.
BACA JUGA : Cerita Lengkap Layangan Putus Versi PNS yang Lagi Viral, Siapin Tisu!
Dia bercerita bagaimana dirinya memerangi kehilangan memori hingga menjadi bestselling author, “Beberapa tahun lalu, akibat stres yang ekstrim membuat saya collapsed dan terbangun dengan kehilangan ingatan. Panik menyergap, rasanya bagaikan tersesat di lautan horor tak berujung. Tapi apakah hal itu membuat saya menyerah dan meratapi nasib? Jawabannya tidak, tidak akan.”
Sejak saat itu, Zen merasa hidupnya merupakan perjalanan tanpa akhir untuk mengeksplorasi dan mencoba berbagai teknik demi meningkatkan daya ingat, serta membangun kembali kehidupan yang bermakna.