Mengenal BPA, Zat yang Disintesis Pertama Kali Oleh Ahli Kimia Rusia

Antara, Jurnalis
Rabu 20 April 2022 11:53 WIB
Botol susu bayi seharusnya bebas BPA (Foto: Brifly news)
Share :

Hal tersebut lantaran lama-kelamaan, senyawa BPA bisa lepas dari rantai polikarbonat bahan kemasan dan luruh menjadi cairan. Pada akhirnya, kandungan BPA tersebut akan mengontaminasi makanan atau minuman yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, Koordinator riset dan teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan mendesak kalangan akademisi untuk lebih kritis dan tidak meremehkan potensi bahaya BPA sebagai bahan kimia yang bisa memicu kanker dan kemandulan pada galon keras polikarbonat.

Ia juga meminta agar akademisi menggelar riset membantu BPOM. Dia mencontohkan minimnya riset terkait level peluluhan BPA pada galon guna ulang yang usianya sudah di atas lima tahun namun masih beredar di pasar, atau keamanan galon yang pengangkutannya menggunakan truk terbuka, atau mutu galon yang kerap dicuci dan disikat berulang.

Seiring perkembangan riset dan sains mutakhir, kata Hasan, otoritas keamanan pangan di berbagai negara mengkhawatirkan residu BPA pada kemasan polikarbonat dan efeknya pada kesehatan manusia.

Di Perancis dan Kanada telah melarang peredaran semua kemasan pangan yang mengandung BPA, setelah sebelumnya sebatas melarang penggunaannya pada kemasan botol bayi.

Di Indonesia, BPOM mengharuskan produsen pangan yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat menaati ambang batas migrasi BPA yang ditetapkan sebesar 0,6 mg/kg. BPOM mengecek kepatuhan industri atas aturan yang sifatnya self-regulatory tersebut dengan menggelar audit secara rutin.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya