Atasi karhutla di Riau
Berbeda dengan sebelumnya namun masih berkutat di dunia penerbangan. Pada job baru ini, ia berurusan dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Ia menerbangkan Helikopter Bel 412 untuk patroli udara, membawa tim reaksi cepat hingga melakukan bom air atau water bombing.
Soal karhutla, ternyata ia punya kenangan traumatis saat menjalani pendidikan penerbangan di Palembang pada 2014. Saat itu, ia melihat langit sampai berwarna oranye akibat kabut asap. Lebih parahnya lagi, ia sempat terpapar Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
"Waktu itu belum sadar kalau akibat kebakaran hutan bisa sampai separah ini. Bahkan, aku juga jadi korban. Jadi ketika ada program penanggulangan karhutla, menurutku ini bagus, jadi ini perlu dicegah," katanya.
Awal bertugas, ia melakukan patroli udara bersama kapten dan teknisi. Namun pekerjaan yang menuntut konsentrasi penuh adalah saat membawa dan menurunkan Regu Pemadam Kebakaran TRC. Memilih lokasi turun juga sangatlah penting.
"Kalau jauh (lokasi turun), TRC capek pergi ke lokasi kebakaran. Kalau dekat nanti akan kena api. Jadi harus pilih-pilih tempat mendarat. Makanya kita asesmen dulu, kadang mutar-mutar dulu di udara," ulasnya.
Sementara untuk water bombing, dirinya juga pernah beberapa kali melakukan misi itu. Kesulitannya adalah saat menyiramkan air karena harus tepat dan serba presisi saat memuntahkan ember raksasa berisi 500-600 liter ait itu.
"Pertama takut karena yang dihadapi api, khawatir juga dengan TRC yang turun. Tapi ketika sudah melihat cara penanganannya yang efektif dan tim yang terlatih, kekhawatiran itu hilang," sambungnya.