Saat berproses di Garuda, tiba-tiba saja keluar regulasi yang mengatur umur pramugari hanya sampai 36 tahun. Padahal menurutnya, umur segitu bisa dibilang masih produktif dan terlalu dini karir diputus.
Terus memikirkan ini Jeanette pun penasaran melihat kerja seorang pilot yang selalu dilihatnya di kabin pesawat. Ia pun berminat dan merasa bisa.
Akhirnya pada 2015, ia membulatkan tekad menempuh pendidikan di Deraya Flying School, Jakarta. Ia pun mendapati memang sangat sedikit kaum perempuan yang belajar di sana. Bahkan di angkatannya, dia menjadi satu-satunya perempuan.
Namun menurutnya, kompetensi yang diminta untuk menjadi pilot tak ada membedakan laki-laki atau perempuan. Hanya masalah kodrati saja perempuan mempunyai suatu periode tertentu.
Saat pendidikan latihannya menerbangkan Cessna 400 Business Jet 400. Ya, setelah lulus pada tahun 2015 perdana menerbangkan pesawat dan berkarir pada penerbangan tersebut.
Dia menuturkan untuk mencari pekerjaan sebagai pilot, dirinya masih kerap menemui perusahaan yang secara tegas membutuhkan pilot laki-laki. Jadi kesannya masih menunjukkan adanya diskriminasi gender.
"Tapi saya harap ke depan tak ada perbedaan pilot laki-laki dan perempuan. Tapi yang dilihat prestasinya," ujarnya.
Usai dua tahun pada pesawat bersayap, ia pun bergeser menjadi pilot helikopter. Berawal dari teman yang mengajaknya seleksi beasiswa pada 2017. Ia pun lulus dan mendapatkan penempatan untuk Yayasan Helivida Indonesia, dengan menerbangkan helikopter AS350 untuk kemanusiaan ke Wamena, Papua.
Takdir berkata lain. Pada 2019 suasana tidak memungkinkan lagi untuk bertugas di Papua, hingga ia pun kembali ke Jakarta dan melamar ke sebuah perusahaan jasa penerbangan. Jeanette pun diterima, menjalani training, dan aktif bekerja mulai Januari 2020.