Tak memiliki anak juga bermanfaat bagi masyarakat
Rini Sugianto (41), seorang animator yang bekerja untuk perusahaan teknologi Genies Inc. di California memahami hal itu. Pasalnya, menurut perempuan yang tidak ingin memiliki anak ini, konsep keluarga beranak di Indonesia sudah ditanamkan sejak masih kecil sehingga sesuatu yang lain dari kebiasaan umum sering dianggap abnormal.
Ia sendiri merasa bersyukur tinggal di Amerika Serikat dan jauh dari situasi itu, meski menurutnya, masih saja ada beberapa orang Amerika menganggap aneh keputusan orang-orang yang tidak ingin memiliki anak.
(Foto : Rini bersama bayi temannya)
Perempuan yang menikah dengan pria Amerika ini mengatakan, warga Amerika secara umum lebih toleran terhadap orang-orang seperti dirinya.
“I think they have a litle bit more understanding kalau misalnya itu its’s our choice. Jadi tidak terlalu nge-push. Mereka accept. Itu urusan keluarga masing-masing. I think that’s the main difference,” jelasnya.
Rini yang menyukai anak-anak mengaku pilihannya untuk tidak memiliki keturunan lebih karena ia memang tidak memiliki cukup alasan untuk menjadi seorang ibu.
“I don’t have a reason. Saya nggak ada main reason-nya. Ada yang punya reason nerusin nama keluarga, or all different reasons, ada ada yang reason-nya ‘have someone to take care of me in the old days’. Buat saya reason itu, it’s not strong enough.”
Meski sudah menikah hampir 10 tahun, Rini masih sering menerima komentar atau sindiran terkait keputusannya untuk tidak memiliki anak. Yang paling menyakitkan, katanya, adalah pernyataan bahwa ia belum memenuhi kewajibannya sebagai perempuan.
Terlepas dari kritikan, Sonita Lontoh, keturunan Indonesia di San Francisco, California, yang juga memutuskan tidak memiliki anak meski bersuami, mengatakan, perempuan-perempuan yang tidak memiliki anak juga bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam sebuah artikelnya yang ditulis majalah Forbes edisi April 2021, eksekutif teknologi ini mengatakan: “Tidak memiliki anak berarti mengonsumsi lebih sedikit sumber daya bumi yang berharga. Perempuan tanpa anak dapat berbagi lebih banyak kekayaannya dengan orang lain yang membutuhkan. Mereka dapat pensiun dini dan mencurahkan waktunya untuk tujuan-tujuan penting di dunia.”
Bagi mereka yang saat ini masih bimbang dengan keputusan terkait keturunan, Victoria Tunggono menyarankan untuk membaca bukunya dan merenungkannya. “Tidak menyuruh orang untuk bebas anak. Tidak menyuruh orang untuk punya anak atau bagaimana. Ini panggilan hati. Kalau sudah ada keraguan jangan dicoba-coba, karena untuk punya anak itu bukan coba-coba. Kalau belum yakin tunggu sampai saatnya yakin,” jelasnya.
Victoria menulis buku itu dari Oktober hingga Desember tahun lalu. Selain menceritakan pengalamannya sendiri, ia mewawancarai empat belas orang tanpa anak dari usia 20-an hingga 50-an, terlepas dari status perkawinan atau orientasi seksual mereka, dan berbagi cerita. Buku ini membahas berbagai alasan untuk tidak memiliki anak, termasuk masalah keuangan dan mental, kapasitas fisik, keberatan filosofis dan alasan lingkungan.
(Helmi Ade Saputra)