Mengenal Lebih Dekat Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm

, Jurnalis
Selasa 22 Juni 2021 19:28 WIB
Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)
Share :

3. Apa gejala-gejala terjadinya pembekuan darah yang harus diwaspadai?

Pembekuan darah yang terjadi akibat vaksin AstraZeneca kebanyakan dijumpai pada pembuluh darah di daerah kepala, yang disebut cerebral venous sinus thrombosis (CVST).

Gejala-gejalanya adalah : Sakit kepala yang hebat, kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual, muntah, gangguan berbicara. Bisa juga dijumpai nyeri dada, sesak nafas, pembengkakan pada kaki atau nyeri perut. Kadang dijumpai lebam di bawah kulit. Jika terdapat gejala-gejala demikian, segera saja mencari bantuan medis.

Di Eropa, reaksinya umumnya terjadi 3- 14 hari setelah vaksinasi. Gejala-gejala semacam sakit kepala yang hebat dan tidak tertahankan juga sempat dialami oleh almarhum Trio, yang mungkin memang mengalami pembekuan darah.

Namun demikian hal ini masih perlu dipastikan, karena kejadiannya sangat cepat. Yang perlu dipahami adalah bahwa dari sekian ribu yang menerima vaksin AstraZeneca di Indonesia, hanya 1 orang yang dilaporkan meninggal dengan dugaan tersebut, yang menunjukkan bahwa hal tersebut lebih dipengaruhi oleh reaksi individual subyek dibandingkan dengan kualitas vaksinnya. Tindakan men-suspend vaksin dengan nomer batch CTMA457 merupakan upaya untuk menginvestigasi dan memberikan jawaban yang transparan terhadap kasus ini.

Pertanyaan yang menarik adalah mengapa yang di-suspend sementara hanya batch tersebut dan tidak semuanya? Ya, sebenarnya itu memang prosedur jika terjadi KIPI yang fatal untuk menginvestigasi kemungkinan ada faktor dari vaksinnya terhadap kasus kematian tersebut.

Mungkin bisa dianalogikan dengan ketika terjadi kecelakaan pesawat, tentu yang diinvestigasi adalah pesawat yang mengalami kecelakaan, dan tidak harus menghentikan semua penerbangan sementara banyak yang membutuhkan. Dan hasil investigasi BPOM menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca nomor batch CTMA457 tidak ada masalah dengan kualitas terkait keamanan, sehingga kemudian dapat digunakan kembali.

Dengan demikian, maka kejadian KIPI yang berakibat meninggal tersebut bukanlah karena faktor vaksin, tetapi karena faktor respons subyek secara individual terhadap vaksin.

4. Siapa saja yang berisiko mengalami ?

Yang menarik dari kasus pembekuan darah yang terjadi pada penggunaan vaksin ini di Eropa, sebagian besar terjadi pada usia muda (di bawah 40 tahun), bahkan di bawah 30 tahunan, dan kebanyakan adalah wanita. Karena itu, di Inggris, badan otoritas setempat merekomendasikan bagi mereka yang berusia di bawah 40 tahun untuk menggunakan vaksin selain AstraZeneca.

Namun demikian, jika sudah menggunakan vaksin AstraZeneca pada suntikan pertama dan tidak mengalami masalah apapun, disarankan untuk meneruskan suntikan kedua dengan vaksin AstraZeneca lagi.

5. Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki riwayat pembekuan darah? Apakah boleh menggunakan vaksin AstraZeneca ?

Sebenarnya belum ada bukti bahwa orang-orang dengan Riwayat pembekuan darah (deep vein thrombosis, stroke, jantung iskemi) berisiko mengalami pembekuan darah akibat vaksin.

Yang lebih berisiko justru mereka yang pernah mengalami heparin-induced thrombocytopenia and thrombosis (HITT or HIT type 2), namun kejadian ini pun sangat jarang. Namun demikian, untuk kehati-hatian, ada baiknya mereka yang punya riwayat pembekuan darah tidak menggunakan vaksin jenis ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya