Hasilnya adalah trilling dalam bahasa Jerman dan Italia menghasilkan partikel dua kali lebih banyak per menit, masing-masing 1.302 dan 1.166, dibandingkan bernyanyi dalam bahasa Jepang, yaitu jumlah partikel yang dikeluarkan sebanyak 580.
Akan tetapi, direktur asosiasi Toru Niwa memperingatkan bahwa kesimpulan dari penelitian tersebut tidak boleh menjadi menghindari musik Eropa selama pandemi.
"Musik klasik pada dasarnya adalah kanon barat. Jika kami berhenti bernyanyi dalam bahasa Prancis, Italia, dan Jerman, kami tidak akan bisa tampil lagi," katanya.
(Martin Bagya Kertiyasa)