MEDIA sosial pada Kamis 4 Juni 2020 diramaikan tagar SurabayaWani. Tagar tersebut sebagai bentuk penyemangat agar warga Surabaya berani melawan Covid-19.
Sementara itu, angka kasus di Kota Pahlawan tersebut sekarang ini terus meninggi. Makanya penetapan zona hitam diberikan untuk Surabaya.
Per Jumat (5/6/2020), mengutip data dari lawancovid-19.surabaya.go.id, total kasus Covid-19 di Surabaya ialah 2828 kasus. Mengetahui kabar ini, Okezone coba mewawancarai salah seorang Arek Suroboyo, Sam namanya.
Baca Juga: Tagar SurabayaWani Menggema di Twitter, Netizen: Semangat Bu Risma, Pasti Ada Pelangi
Dia menjelaskan, ada perubahan kebiasaan masyarakat Surabaya saat muncul istilah zona hitam corona. Di sisi lain, sebagian masyarakat juga tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.
Perubahan itu terjadi salah satunya di mal. Menurut Sam, biasanya mal di Surabaya Barat ini di hari Minggu sangat padat, tapi sekarang tidak lagi.
"Aku selama 3 bulan enggak ke mal, tapi kemarin mau enggak mau ke mal karena harus beli kabel ponsel. Pas di mal, sepi banget dan beberapa gerai tutup dan lampu di beberapa area dimatikan," terangnya melalui pesan singkat, Jumat (5/6/2020).
Kekhawatiran Sam pun terjadi di pasar tradisional. Ia terbilang punya kebiasaan berbelanja ke pasar dan sekarang ini jadi takut. Sebab, kemungkinan virus corona dibawa oleh pedagang ada, juga pengunjung lainnya, sehingga ia tak ingin tertular di pasar.
"Takut ke pasar. Tapi, ya, harus. Jadi, ngakalinnya datang ke pasar jam 6 pagi saat belum banyak orang ada di sana sehingga leluasa belanjanya," tambahnya.
Perubahan lain yang ia rasakan ialah tak leluasa mengantar ibunya yang punya masalah jantung dan diabetes. Sam menjelaskan, seharusnya setiap bulan sekali ibunya kontrol ke rumah sakit, tapi sekarang ini sudah 2 bulan nggak bisa.
"Kita disarankan untuk beli obat saja dan itupun harus di apotek luar rumah sakit tepat biasa ibunya kontrol (karena RS-nya jadi rujukan pasien Covid-19)," cerita Sam.
Kondisi tersebut membuat dirinya juga harus menghadapi fakta bahwa membeli obat tidak lagi ditanggung BPJS Kesehatan, karena bukan di rumah sakit tempat biasa berobat. "Kemarin beli obat bisa sampai Rp200 ribu ada juga obat yang harganya di atas Rp200 ribu, padahal biasanya ditanggung BPJS Kesehatan," terangnya.
Di Surabaya juga sekarang nggak banyak klinik yang buka. Ini membuat Sam dan keluarga yang beberapa hari lalu mengalami masalah flu harus mengatasi kondisi tersebut secara mandiri.
"Ya, kami jadi beli jahe, semua jenis jahe kami beli, jahe merah, putih, kecil, atau besar, semua dibeli, madu juga kami beli. Ya, karena klinik dokter semuanya tutup," tambahnya.
Meski kekhawatiran itu tinggi, namun ia merasa tak semua warga Surabaya takut walau mereka ada di kawasan zona hitam. Hal itu bisa dilihat dari masih ramainya masyarakat beraktivitas di luar rumah.
"Jalan jalan enggak ngefek, masih rame. Aktivitas masih seperti biasa karena mungkin beberapa dari masyarakat masih harus beraktivitas," keluhnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)