Mereka justru bahagia menyambut banjir, terlebih ketika sekolah diliburkan. Dengan kondisi demikian, bocah-bocah tersebut akan mencari pohon pisang untuk dibuat rakit lalu keliling seru-seruan.
“Pohon pisang paling dicari, dipotong-potong, dipasak pakai bambu jadi rakit. Piknik kita keliling kampung. Kalaupun ada yang naik perahu, itu orang-orang dari kampung tetangga yang ngungsi ke kampung saya, yang relatif lebih maju karena ibu kota kecamatan,” lanjut Sigit.
(Abu Sahma Pane)