Kenangan itu muncul ketika Sigit melihat beberapa bocah laki-laki sedang girang bermain perahu karet di atas air cokelat. Sontak ia pun mulai menceritakan kisah masa lalunya saat berada di Patianrowo, saat banjir datang sekira 1980-an.
Ia mengatakan di Patianrowo diapit Sungai Brantas. Jika musim hujan tiba, debit air di sungai itu semakin tinggi, bahkan airnya sering meluap hingga kampungnya kebanjiran.
“Kampung saya jadi pelanggan tetap banjir tiap musim hujan. Musim hujan berarti banjir, water world jalanan, halaman rumah, pekarangan, dan tentu saja sawah rata terendam air,” ucap Sigit kepada Okezone beberapa waktu lalu.
Akibat luapan Sungai Brantas, banyak eceng gondok, ulat, dan tentu saja ular keluar dari tempat persembunyiannya. Uniknya Sigit dan bocah-bocah lain bukannya takut atau jijik, apalagi sedih.