"Pemeriksaan tumor marker itu nanti diambil darahnya, dari situ dianalisis, ada informasi CA berapa masing-masing area ada kodenya. Misal kalau tidak salah CA 16 itu untuk pencernaan. Kalau angkanya tinggi kemungkinan ada sesuatu, curiga ada tumor di pencernaan atau bakat," ujar dr Rizal.
Hasil analisis pemeriksaan tumor marker bisa menjadi panduan bagi pasien dalam menentukan gaya hidupnya. Apabila ada risiko terjadinya kanker, maka pasien dapat menghindari hal-hal yang memicu perkembangan tumor atau bahkan bisa menjadi kanker.
"Pemeriksaan tumor marker merupakan salah satu cara mencegah terjadinya tumor agar jangan sampai jadi kanker. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan 2 tahun sekali, itu sudah cukup. Tapi kalau ada faktor risiko pemeriksaannya satu tahun sekali," pungkas dr Rizal.
(Dinno Baskoro)