Aku Ditolak Jadi Pramugari
Masa remaja untungnya gak ada masalah body shaming, tapi aku ngerasain hal itu di usia 22 tahun dan sampai sekarang sebetulnya.
Dulu ingin banget kerja ala-ala keliling kota, aku mikir kerja apa yang bisa kayak gitu. Oh, pramugari. Lantas, aku coba beragam maskapai dalam negeri dan luar negeri sampai belasan kali tapi nggak lolos juga. Sempat putus asa, akhirnya aku bilang sama diri sendiri, oke aku coba maskapai dalam negeri.
Ketika itu berat badan aku 65 kg dengan tinggi 173 cm. Dengan kondisi itu, kalau dilihat dari table BMI (Body Mass Index) aku masih dikategorikan normal, masih ada di kolom hijau.
Momen mendaftar pun datang. Di momen itu aku sangat berbeda, aku dandan cantik, bawa surat keterangan bebas narkoba, pakai heels, pokoknya sudah tampil paling ciamik.
Tahap awal biasanya kita diukur tinggi dan berat badan. Pas antrian aku tahu depan aku punya badan yang sebetulnya lebih besar dibandingkan aku. Wajahnya cantik eksotis, kulitnya putih, matanya lebar, hidung mancung, bibir tebal. Aku masih ingat sekali wajah si perempuan itu.
Namun pas ditimbang dan diukur tinggi dia sebetulnya tidak lolos. Namun, disuruh tunggu. Aku dengar salah satu panelis yang mantan pramugara itu bilang kepadanya dan rekan panelis lain, "Jarang kita menemukan wajah seperti kamu, kamu tunggu dulu deh."
Si mantan pramugara itu bahkan rela mencarikan baju untuk si perempuan supaya postur tubuhnya gak kelihatan besar saat masuk ke tahap 2.
Kemudian giliranku tiba. Aku ditolak! Langsung aku tanya, "Kok dia diterima, sementara aku nggak?" Lalu, si mantan pramugara itu bilang, aku ini bertubuh besar, bongsor! Nanti dia disalahkan kalau aku lolos.
Sementara itu, si pria itu menjelaskan juga kalau tolak ukurnya nggak cuma itu, tapi wajah yang unik jadi salah satunya. Well, aku berarti tidak unik, tidak cantik, tidak eksotis. Melengos aku tanpa permisi dan terima kasih. Nangis aku dijatuhkan seperti itu.
Air mataku jatuh tak terbendung. Sepanjang perjalanan pulang aku merasa tidak memiliki keistimewaan apapun. Aku dijatuhkan dengan cara yang sakit.
Kesedihan itu aku kubur. Kemudian aku mulai mencari tempat kerja dan diterima di salah satu media. Berat badanku makin lama makin bertambah. Temen-temenku yang tahu dulunya aku kurus mulai mencibir, "Lo gendutan ya, ah gak kenal, kok bisa gendutan, ndud ndud!"
Awalnya sih nggak apa-apa. Tapi lama-lama kok nyakitin, ya. Aku mulai coba kurangi makan, mulai diet. Gagal juga, aku pasrah saja.
Pernah dalam pertemuan keluarga ada saudara jauh yang kenal juga kagak, main ke rumah juga nggak pernah, tiba-tiba bilang, "Wah lemu-lemu (gemuk-gemuk), ya", "Wah, ini udah isi (hamil), ya?". Kesal sekali aku mendengar kalimat itu. Lalu, aku menjawab, "Iya, ini sudah isi, isi lemak," tukasku.