Jejak Sejarah Kopi Kerajaan Mangkunegaran Solo

Agregasi Solopos, Jurnalis
Rabu 27 Februari 2019 18:16 WIB
Kopi mangkunegaran Solo (Foto:Solopos)
Share :

KULTUR menyesap kopi di Kota Bengawan selama ini kalah populer ketimbang menyeruput teh. Tak heran terbit kultur jayengan alias menyeduh dengan jalan menubruk beberapa jenis teh untuk menghasilkan cita rasa mantap. Kendati menikmati secangkir kopi seduhan baracik bukan menjadi tradisi utama, sejarah kahwa tak bisa lepas dari jantung Kota Solo.

Sejarawan Heri Priyatmoko yang sempat meriset sejarah pakopen (perkebunan kopi di lingkungan desa) menuturkan persebaran kahwa Soloraya berutang nama pada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV (1853-1881). Raja waktu itu merintis budi daya kopi jenis arabika (dikenal juga sebagai kopi Jawa) dan liberika.

“Jejak kejayaan Mangkunegaran kerap kali cuma dikaitkan dengan gula. Padahal era Mangkunegara IV, kopi jadi komoditas kedua sebagai penyumbang pundi-pundi kerajaan,” ujar Heri membuka obrolan ketika ditemui Solopos.com di rumahnya di kawasan Telukan, Sukoharjo, belum lama ini.

Sedikit menengok ke belakang, kahwa menjadi minuman populer di Eropa pada abad ke-17. Komoditas ini lantas jamak dibudidayakan di Nusantara pada awal abad ke-18. Beberapa sentranya antara lain Bogor, Priangan, Cirebon, Kedu, dan Bondowoso.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya