“Saat di SMA, dulu tak punya pikiran untuk masuk FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UI. Setelah ikut try out dan melihat kesesuaian nilai dan passing grade jurusan, masuk UI rasanya sebuah kebanggaan tersendiri,” jelas perempuan yang berdomisili di Bogor ini.
Resmilah Nani menjalani kuliah di FKM UI medio 2005-2009. Setelah masuk kuliah, katanya, banyak pengalaman baru didapat. Mulai dari wawasan akademis seperti penjurusan, dosen yang berpikiran terbuka sampai kegiatan ekstrakampus.
“Selama perkuliahan para dosen AKK membuat kampus menjadi tempat menyenangkan untuk berpendapat dan itu berharga banget, anak muda seperti kita belajar open-minded dari mereka,”ulas Nani.
Suasana belajar penuh diskusi tadi juga ditemui di luar ruang belajar mengajar. Nani mengingat ada spot-spot ruang diskusi seperti Taman Bougenville bagi mahasiswa untuk belajar beretorika. Sehingga mereka lebih bebas berekspresi dan tidak berpikiran kolot.
Pengalaman kuliah tersebut menjadi modal terbesar Nani ketika memasuki dunia kerja tak lama setelah lulus jenjang S-1. Ia berhasil lolos tes pegawai negeri sipil di Kementerian Kesehatan tahun 2009.
“Ketika masuk dunia kerja, lulusan UI diakui dimana-mana. Pengetahuan di FKM ketika bekerja jadi basic sebagai humas, seperti pengenalan istilah kesehatan dan sebaliknya banyak hal baru didapat ketika di kampus,” tutur Nani.
Lain Nani, lain lagi dengan Muhammad Fakhruddin (35 tahun). Jejaring profesi menjadi modal kerjanya sebagai jurnalis di sebuah media cetak. Atas kesadaran itulah ia memilih jurusan S-2 Kajian Wilayah Amerika Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) pada tahun 2018 lalu. Berbekal beasiswa dari sebuah bank BUMN, ia ingin memperdalam komunitas Muslim di Amerika.