SEPULANG ikut UI Open Days tahun lalu, Nurullita enggak galau lagi. Gadis lulusan SMK di bilangan Tebet, Jakarta Selatan ini memutuskan masuk jurusan Okupasi Terapi (OT) Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2017 lalu.
Pertimbangan mudah diserap pasar kerja memang selalu menjadi motifnya ketika memilih sekolah lantaran penghasilan orangtuanya pas-pasan sebagai pedagang.
“Saya pilih SMK karena lulusannya lebih dinilai terampil dan bisa diterima kerja lebih cepat. Sekarang saya dapat info kalau lulusan OT sangat dibutuhkan di dunia kerja khususnya pelayanan kesehatan,” ujar perempuan berusia 19 tahun ini.
Keyakinannya bertambah setelah membaca artikel dari beberapa media massa. Animo kebutuhan tenaga kesehatan di bidang OT disebut sangat tinggi karena dalam kondisi ideal seorang pasien perlu ditangani dalam durasi selama 60 menit. Sementara belum banyak universitas yang menghasilkan lulusan OT. Sedangkan jurusan OT sejak tahun 1997 dan pada tahun 2008 telah masuk di bawah naungan Vokasi UI.
Dalam kesempatan lainnya, Ketua Program Studi Okupasi Terapi Vokasi UI Gunawan Wicakcono,A.Md. OT, SKM, M.Si. menerangkan bahwa Program Pendidikan Vokasi UI merupakan pendidikan tinggi kejuruan diploma (D3). Sehingga lulusannya diarahkan untuk menguasai kemampuan dalam bidang kerja tertentu sebagai tenaga kerja di industri, lembaga pemerintahan/swasta atau berwiraswasta.
Seorang Okupasi Terapis dapat bekerja di rumah sakit (RS), klinik dan pusat rehabilitasi, sekolah khusus, industri dan perusahaan swasta, serta menjadi seorang pendidik dan konsultan. Ruang lingkup OT terdiri atas pediatri (anak), geriatri (lansia), psikososial (gangguan jiwa), gangguan fisik, dan kesehatan kerja.
“Hingga tahun 2018, para lulusan prodi OT Vokasi terserap 100 persen di dunia kerja,” ujar Gunawan menegaskan.