“Hasil kopi luwak di Indonesia sebaik apapun bukan cuman fisik tapi batin. Dan binatang yang dikurung akan mengeluarkan sesuatu yang tidak bahagia. Walaupun mereka terlihat bahagia, tetap saja ada sesuatu yang tidak bahagia masuk ke dalam kopi ini. dan kopi ini membuat orang tidak bahagia juga. Sama seperti kopi yang ditanam paksa, minumnya tidak akan bahagia,” lanjutnya.
Sebagai contoh Daroe menjelaskan bahwa orang luar negeri selalu menginginkan kopi yang berasal dari luwak liar. Pada saat itu, para petani nakal sengaja berbohong dengan mengatakan bahwa luwak tersebut adalah luwak liar. Nah, hal inilah yang secara tidak langsung merusak kualitas kopi itu sendiri.
“Di luar negeri orang bertanya ini luwak tangkaran atau luwak liar? Nah ketika mereka jawab luwak tangkaran maka orang luar tidak mau beli, alhasil mereka mengatakan luwak liar dan tanpa disadari mereka telah berbohong dan merusak kualitas kopi itu sendiri,” tutupnya.
(Santi Andriani)