MAKANAN Indonesia merupakan salah satu masakan yang paling unik dan dinamis di dunia. Salah satu alasannya karena negara kita memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah. Sejak dulu, masakan Indonesia selalu diidentikkan dengan cita rasa dan aromanya yang khas. Rahasianya tentu saja berasal dari penggunaan bumbu rempah-rempah yang beragam.
Bahkan, ketika pedagang Spanyol dan Portugis datang ke Tanah Air, mereka terkesan saat mencicipi rempah-rempah asli Indonesia, seperti cengkeh dan pala. Bumbu rempah ini kemudian menjadi primadona di kalangan bangsawan Eropa, hingga akhirnya menarik perhatian negara lain, termasuk Belanda.
Namun menurut penuturan Chef Ragil Imam Wibowo dari NUSA Indonesia Gastronomy, sebetulnya masih banyak jenis rempah-rempah yang belum tersentuh dari dunia luar. Ia mengatakan, hampir seluruh daerah di Tanah Air memiliki rempah-rempah unik, seperti daerah Sumatera Utara dengan andalimannya, atau Labuan Bajo dengan tiger mushroomnya.
“Masing-masing daerah itu punya keunikan sendiri-sendiri. Saya ambil contoh tiger mushroom dari Labuan Bajo. Jamur ini harganya bisa mencapai Rp5 juta per kilo. Kenapa bisa mahal? Karena dari rasa dan silsilahnya mirip dengan jamur truffle. Selain itu, jamur ini hanya bisa dicium oleh babi, karena ia tumbuh 6 cm dari permukaan tanah,” ujar Chef Ragil, dalam konferensi pers Jelajah Indonesia, di The Westin Jakarta, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2018).
Selain tiger mushroom, Indonesia ternyata juga memiliki beberapa jenis jamur unik lainnya, seperti jamur kulat pelawan dari Bangka. Sesuai dengan namanya, jamur yang berasal dari Pulau Bangka itu, tumbuh di dekat pohon Pelawan. Warnanya sendiri cenderung berbeda dengan jamur kebanyakan, karena memiliki warna merah muda yang khas.
Menurut Chef Ragil, jamur pelawan termasuk tumbuhan yang langka karena hanya tumbuh dua kali dalam setahun. Selain itu, proses pertumbuhannya sendiri harus dipicu dari sambaran petir dan unsur-unsur yang turun bersama air hujan.
“Unsur-unsur itulah yang kemudian membasahi pohon pelawan. Nah, jika keesokan harinya ada matahari, jamur pun akan mulai tumbuh. Bahkan di Pulau Bangka itu ada hutan khusus yang didedikasikan untuk jamur pelawan,” ujar chef yang gemar blusukkan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Chef Ragil juga berkolaborasi dengan Chef Denny Boy Gunawan selaku Executive Sous Chef The Westin Jakarta. Keduanya akan memperkenalkan kreasi masakan nusantara yang diolah menggunakan berbagai bumbu dan rempah-rempah Indonesia. Uniknya, sebagian besar rempah-rempah dipetik sendiri dari Sabang hingga Merauke.
Okezone berkesempatan mencicipi beberapa hidangan hasil racikan kedua chef ramah itu. Menu yang pertama adalah garang asam khas banyumas. Hidangan berbahan dasar daging dada ayam ini memiliki cita rasa yang segar dan gurih, dengan taburan belimbing wuluh sebagai garnishnya.
Menu kedua ada Iga sapi napinadar yang dibumbui dengan bumbu andaliman, dan rempah-rempah khas Tapanuli lainnya. Rasa gurih langsung menyeruak saat irisan daging dan potongan nanas berpadu di dalam mulut.
“Rasa gurih itu muncul karena iganya saya biarkan terendam dengan kaldunya meski daging telah matang. Kesalahan utama yang sering dilakukan banyak orang adalah mengangkat daging yang sudah matang. Cara ini justru akan membuat daging kuring dan rasa gurihnya tidak dapat terbentuk dengan baik. Sedikit bocoran, kalau di Tapanuli daging yang digunakan itu sebetulnya daging anjing bukan daging sapi,” tukas Chef Ragil sambil tertawa.
“Jelajah Indonesia” dimulai dari tanggal 20 hingga 29 Juli 2018 di Seasonal Tastes, The Westin Jakarta. Untuk makan siang harga yang ditawarkan sebesar Rp388 ribu++ dan makan malam di hari kerja seharga Rp408 ribu++. Harga tersebut sudah termasuk minuman ringan, bir, dan flavoured ice tea. Pengunjung juga dapat merasakan sensasi makan malam dengan pemandangan gerhana bulan dalam program ‘Terang Bulan’ Gastronomy dinner pada tanggal 28 Juli. Menu yang disajikan terdiri dari 5 course set menu dengan harga Rp898 ribu ++ per orang.
(Helmi Ade Saputra)