POPULASI penyu di seluruh dunia terancam punah akibat ulah manusia. Mulai dari perburuan untuk dimakan daging dan telurnya, seperti di Amerika Serikat (AS), serta tingkah manusia yang mengubah habitat asli penyu.
Atas dasar itu lah American Tortoise Rescue (ATR) pada 2000 menginisiasi penetapan Hari Penyu Sedunia setiap 23 Mei. Menarik untuk membahas lebih lanjut mengenai konsumsi daging dan telur penyu.
Konsumsi daging dan telur punya tidak begitu familiar di Indonesia. Tetapi, di Benua Amerika, khususnya belahan Amerika Utara dan Tengah, daging serta telur penyu kerap dimakan penduduk setempat.
Baca juga: Kim Kardashian Kembali Foto Vulgar! Ups, Putingnya Nyempil
Sebenarnya, konsumsi daging dan telur penyu mengandung bahaya tersendiri sesuai penelitian ilmiah. Epidemiologi margasatwa dari Columbia University, Alonso Aguirre, mencatat ada beberapa infeksi mematikan yang terdapat dalam daging penyu.
Melansir dari Sciencenews, Kamis (24/5/2018), daging penyu mengandung bakteri salmonella yang dapat mengakibatkan sakit kepala, nausea, muntah-muntah, dan diare. Kandungan bakteri tersebut ditemukan oleh peneliti pada kasus infeksi yang menyerang 36 orang komunitas aborigin Australia pada 1999. Sebanyak 60% responden mengaku mengonsumsi daging penyu hijau sehari sebelum jatuh sakit.