Ini Alasan Mengapa Pengobatan CAPD Lebih Disarankan bagi Penderita Gagal Ginjal

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Minggu 05 November 2017 15:12 WIB
Share :

SEMAKIN bertambah tahun, penderita gagal ginjal di Indonesia semakin tinggi. Sampai sekarang saja, diketahui penderita gagal ginjal sudah mencapai 100.000 pasien dari jumlah total penduduk 250 juta jiwa.

Angka tersebut semakin tinggi mengingat pola hidup dan kondisi lingkungan sekarang yang sudah tidak baik lagi. Namun, pola hidup yang tidak sehat menjadi salah satu faktor penyebab masalah yang bisa dikatakan tidak bisa disembuhkan ini.

Nah, bagi para penderita, memilih terapi penyembuhan merupakan hak hidup yang tidak bisa dikontaminasi oleh apapun, sekalipun dari dokter yang menangani Anda. Terkait tata laksana dari penyembuhan penyakit ini, Anda bisa memilih cuci darah, cuci perut, atau cangkok ginjal. Nah, pilihan untuk memilih apanya menjadi hak setiap pasien.

Dijelaskan Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi RS Pusat Angkatan Darat dr. Johnny Sp.PD-KGH, M.Kes, MM, penerimaan yang baik dari si pasien terhadap pengobatan yang dia jalani punya pengaruh besar pada keberhasilan pengobatannya itu sendiri.

"Jadi, semakin pasien senang dan menikmati segala tahapan pengobatan yang harus dijalaninya, maka semakin baik kondisi tubuhnya," paparnya pada Okezone saat diwawancarai di acara Seminar Awam Baxter Mendukung Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal di Junsenny Hotel, Jakarta Selatan, Minggu (5/11/2017).

dr. Johnny melanjutkan, pada mereka yang menjalani pengobatan cuci perut atau continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), ada beberapa hal yang harus menjadi kebiasaan bahkan menjadi bagian dari kehidupan si pasien.

Sebab, dengan "menambahkan" sesuatu ke tubuh seseorang, alat CAPD itu sendiri, maka ada beberapa hal yang meski diperhatikan. Salah satunya adalah kedisiplinan dalam mengganti cairan yang memang harus diganti 4 kali dalam sehari.

"Saat ingin mengganti cairan, pasien wajib menggunakan masker dan mencuci tangan dengan baik dan benar," paparnya. Dr. Johnny menuturkan, kalau dua hal sederhana itu saja sudah diabaikan, maka risiko infeksi atau kontaminasi cairan akan meningkat. Kalau sudah begitu, pasien bukannya sembuh malah menambah masalah hidupnya.

Setelah itu, ada hal lain yang juga tidak boleh dilupakan, yaitu tata cara penggunaan CAPD. Makanya, sambung dr. Johnny, pasien yang siap menjalani pengobatan gagal ginjal dengan CAPD, harus mengikuti kelas pemahaman tentang alat dan cara penggunaannya kurang lebih 5 hari di rumah sakit.

Ya, pengobatan CAPD memungkinkan pasien untuk melakukan pengobatan secara mandiri. Jadi, proses pengobatan dilakukan sendiri oleh si pasien tanpa harus ke rumah sakit atau menggunakan suntikan seperti cuci darah.

Sementara itu, sebetulnya siapa sih yang bisa melakukan pengobatan CAPD ini?

Diterangkan Dr. Johnny, mereka yang masih mau mempertahankan kondisi ginjalnya tetap baik, anak muda bahkan anak kecil, mereka yang berencana untuk melakukan pencangkokan ginjal, pun mereka yang tidak punya banyak waktu dan punya ketakutan terhadap jarum suntik.

"Proses pengobatan ini terbilang mudah. Si pasien hanya akan "direpotkan" dengan jadwal 4 kali dalam sehari mengganti cairan. Yaitu pada pagi, siang, sore, dan malam sebelum tidur. "Lokasi gantinya pun bebas. Asalkan bersih dan ada meja, ya boleh saja," terang dr. Johnny.

(Ade Indra Kusuma)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya