WARGA Melayu di Kalimantan Barat memiliki tradisi makan yang khas yaitu saprahan. Tradisi ini tetap dijaga oleh masyarakat hingga kini. Tradisi saprahan memiliki arti duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Untuk selalu menjaga dan melestarikan tradisi saprahan, Pemkot Pontianak menggelar Festival Saprahan se-Kota Pontianak yang diselenggarakan untuk seluruh kelurahan yang ada di Pontianak.
"Budaya makan saprahan ini harus terus dijaga agar tidak dilupakan dan harus dilestarikan," ungkap Walikota Pontianak, Sutarmidji usai membuka Festival Saprahan di Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (1/10/2015).
Makanan pokok seperti nasi dalam saprahan, terdiri dari nasi putih dan nasi kebuli merupakan lambang dua kalimat Syahadat.
Tradisi saprahan harus terdiri dari enam atau maksimal enam orang yang tergabung dalam satu kelompok. Jika lebih, berarti orang yang terakhir datang harus menunggu sampai terkumpul orang enam lagi. Angka enam di sini menyimbolkan jumlah Rukun Iman yang harus diyakini sebagai Muslim, yaitu ada enam perkara.
Untuk lauk yang ada dalam saprahan berjumlah lima macam, ini menjadi penanda Rukun Islam. Kemudian dua sendok yang digunakan untuk mengambil lauk adalah juga melambangkan simbol dari dia kalimat Syahadat.