SALAH satu kebaya yang terkenal dari daerah Betawi adalah kebaya peranakan Tionghoa atau kebaya encim. Kebaya peranakan Tionghoa tersebut memiliki perjalanan tersendiri hingga bisa dikenal sampai sekarang oleh masyarakat.
Kebaya peranakan sendiri bermula dari kebaya yang sangat Indonesia, kemudian diasimilasi dengan kebaya Tionghoa, itu adalah kebaya encim. Namun untuk kebaya peranakan sendiri di suku Betawi ada dua, yakni peranakan Belanda dan Tionghoa.
“Awalnya itu kebaya noni itu dari peranakan Belanda, dimana kebaya itu warnanya putih dan menggunakan renda. Lalu ada kebaya nyonya yang dipakai oleh nyonya-nyonya Tionghoa. Warnanya cerah, warna-warni. Itu dia tepatnya kebaya yang biasa disebut kebaya encim. Aksesorinya biasa pakai konde dan tusuk konde,” papar desainer Musa Widyatmodjo kepada Okezone melalui sambungan telefon, Senin (22/6/2015).
Pemakaian kebaya nyonya atau kebaya encim pun memiliki pakem tersendiri. Beberapa pilihan warna kebaya ternyata memiliki makna khusus.
“Kebaya encim atau nyonya warna putih-biru dihubungkan dengan duka cita atau berkabung. Lalu kalau yang warna-warni sifatnya untuk pesta. Tapi kalau pesta justru bukan warna merah tapi fuschia dan hijau turquise,” jelas Musa.
Tidak hanya kebaya encim, suku Betawi juga memiliki kebaya yang memiliki gaya ciri khas Betawi sendiri. Yakni kebaya Betawi yang bentuknya seperti kebaya kartini.
“sedangkan kebaya betawi itu polos dan tidak kenal bordir. Biasanya kebaya ini dilengkapi dengan pemakaian kerudung karena pengaruh masuknya agama Islam. Kebaya betawi juga selalu dihubungkan dengan kain panjang dan bros,” tutup Musa Widyatmodjo.
(Ainun Fika Muftiarini)