SAAT ini, banyak kasus anak merokok yang terekspos di masyarakat. Kebiasaan merokok ini ternyata sulit diatasi meski orangtua melarang keras atau memasukkannya ke rehabilitasi. Jika lingkungan sekitar masih memberikan contoh merokok, maka selama itu pula pengaruh rokok mengakar kuat pada anak.
Dalam sebuah kesempatan, Liza Marielly Djapri, psikolog dan pakar hipnoterapi klinis menjelaskan bagaimana anak bisa menjadi peniru yang baik, termasuk melakukan kebiasaan buruk yaitu merokok.
“Seperti saat kita mendengarkan CD. Jika kita terus menerus mendengarkan CD yang sama selama berhari-hari, otak akan merekam semua lagu yang didengar. Dan tanpa kita sadari, kita perlahan menjadi hapal, bagaimana lirik lagu-lagu dalam CD, kemudian lagu apa yang akan muncul setelah lagu pertama selesai. Seperti inilah anak-anak merekam apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan, termasuk melihat iklan rokok, dan mencium paparan asap rokok,” jelas Liza dalam sebuah jumpa pers bertema Komnas Anak Meminta Pemerintah Menegaskan Pelarangan Iklan, Promosi dan Sponsorship Rokok di Indonesia, di kantor Komnas Anak, di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (30/1/2013).
Memang saat ini banyak fenomena baby smoker di Indonesia yang cukup memprihatinkan. Meskipun beberapa kasus sudah mendapatkan bantuan berupa rehabilitasi anak, ternyata ini saja tidak cukup.
“Jika anak merokok, kemudian direhabilitasi dan dibantu untuk menghentikan kegiatan merokok, memang anak akan bisa menjadi normal. Tetapi saat kembali ke lingkungan dan anak melihat, menghirup paparan rokok, ini bisa memicu kembali kegiatan merokok yang pernah dilakukan, dan tentu dia akan kembali menjadi seorang perokok,” tutur Liza. (ind)
(Tuty Ocktaviany)