Evening Wear, Simpel hingga Glamor

Koran SI, Jurnalis
Rabu 26 Mei 2010 09:16 WIB
Model memamerkan gaun malam di JFFF 2010 (Foto: Heru Hariyono/Okezone)
Share :

PARA desainer mempersembahkan ragam koleksi evening wear di catwalk Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2010. Mulai gaya simpel elegan hingga mewah dan glamor.

Gaun-gaun panjang yang menyapu lantai, cocktail dress penuh kilau payet, hingga strapless hitam ketat ala disco diva tersaji apik di Ballroom Hotel Harris Kelapa Gading dalam pergelaran JFFF.

Dua asosiasi mode Indonesia, Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menawarkan koleksi evening wear dalam beragam gaya. Stephanus Hamy tetap konsisten memasukkan unsur etnik dalam rangkaian gaun malam berpotongan simpel. Hamy, yang mengusung tema ”Simplicity” untuk koleksi evening wear-nya, berpendapat bahwa busana malam tidak harus selalu berbentuk gaun atau penuh glamorama yang dramatis. Karena itu, tidak heran bila perancang yang merupakan lulusan American Academy ini, menghadirkan 10 set busana bergaya praktis dalam konsep mix and match.

Yongki Budisutisna mengeluarkan aroma glamor lewat rancangan penuh detail. Bagi Yongki, sentuhan glamor dan mewah untuk evening wear mutlak adanya.

Karena itu, Yongki menghadirkan konsep couture dengan bunga mawar sebagai inspirasi. Yongki banyak bermain detail pada kain, seperti aksen bunga di pundak, lipatan-lipatan membentuk kelopak bunga, sampai siluet bervolume. Payet dan kristal tetap dijadikan unsur andalan untuk menghadirkan kemewahan sebuah busana malam.

”Kiss From a Rose” yang menjadi tema koleksi Yongki di catwalk JFFF diakuinya terinspirasi dari keindahan mawar yang klasik.

”Banyak lekukan yang terinspirasi dari bentuk kelopak mawar, ada di detail ujung baju dan pundak, juga beberapa aksen yang memakai mawar,” jelas Yongki.

Kesan feminin itu ditampilkannya lewat pemakaian chiffon dan tulle yang dibentuk ruffle, layering serta pita yang menyerupai bunga-bunga. Sementara kesan kuat datang dari pengolahan taffeta, suede dan material stretch berpotongan tegas.

Sementara itu, Valentino Napitupulu pun menampilkan koleksi gaun bernafas glamor. Pria yang akrab disapa Valen ini menggambarkan unsur mewah dari perpaduan bermacam bahan seperti duchess silk, satin silk, sifon, lace, dan organdi yang diperkaya dengan payet dan kristal Swarovski.

”Saya banyak bermain dengan motif, ada aksen lace yang ditempel asimetris maupun simetris, digabung dengan cutting yang tidak biasa. Meskipun detailnya cukup ramai, tetap terlihat harmonis karena saya memilih warna yang senada, seperti putih, abu-abu dan silver, jadi tidak berlebihan,” terangnya.

Adapun Kanaya Tabitha menyuntikkan aura sensual dalam koleksi bertema ”Lovevolution”. Menurut Kanaya, tema yang diambil dari kata ”love” dan ”evolution” itu menunjukkan sisi evolusi kedewasaan seorang gadis.

Koleksinya mempresentasikan seorang gadis pada awalnya gemar menggunakan gaun-gaun mini dan terus berubah hingga menjadi bergaya anggun dengan pilihan gaun yang lebih dewasa. Namun, tetap “fashionable” lewat permainan cutting, motif, serta warna-warna agresif.

Warna juga menjadi kekuatan rancangan Jazz Pasay yang mengambil tema ”Girls of Wonderland”.

Jazz mengatakan, koleksi terbarunya itu terinspirasi dari film ”Alice in Wonderland” besutan Tim Burton serta gaya hidup era Victoria. Karena itu, tak heran bila koleksi Jazz banyak terdiri dari ragam rok can-can yang sassy dengan detail cantik seperti ruffles, fringe, manik-manik, serta mutiara.

Handy Hartono justru menghadirkan warna emas untuk menunjukkan citra elegan sebuah gaun malam. Dia juga tetap memasukkan unsur budaya tribal yang terinspirasi dari suku-suku di pedalaman Afrika.

”Saya mencoba memadukan keindahan warna emas yang mewah dengan garis rancangan etnik suku pedalaman Afrika,” pungkasnya.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya