
Tisu basah dapat digunakan untuk menghapus makeup dalam kondisi tertentu, misalnya saat sedang bepergian dan tidak memiliki akses ke produk pembersih wajah. Namun, menurut para ahli, tisu basah sebaiknya tidak selalu menjadi pilihan utama untuk membersihkan wajah.
Gesekan saat menggunakannya serta sisa bahan pembersih yang tertinggal di kulit dapat meningkatkan risiko iritasi, terutama jika digunakan berulang kali. Sebagai alternatif, kamu bisa menggunakan pembersih wajah yang lembut, seperti micellar water yang sesuai dengan jenis kulit, kemudian membilas wajah jika diperlukan sesuai petunjuk produk.
Setelah membersihkan wajah, gunakan pelembap untuk membantu menjaga kondisi lapisan pelindung kulit.
Tisu basah juga kerap digunakan untuk membersihkan area genital dan anus setelah buang air. Meski praktis, penggunaannya perlu diperhatikan karena kulit di area tersebut relatif sensitif.
Campbell menjelaskan bahwa bahan tertentu dalam tisu basah dapat memicu reaksi alergi di sekitar anus. Salah satu keluhan yang mungkin muncul adalah pruritus ani, yaitu rasa gatal pada anus.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pilih produk tanpa pewangi dan hindari bahan yang diketahui memicu alergi pada kulitmu. Jika tisu basah menyebabkan gatal, kemerahan, atau rasa perih, segera hentikan penggunaannya.
Sebagai alternatif, kamu dapat menggunakan air bersih atau bidet. Tisu toilet yang dibasahi air juga bisa menjadi pilihan jika digunakan dengan lembut dan tidak menyebabkan iritasi.
Perlu diingat, label seperti flushable pada tisu basah tidak selalu berarti produk aman dibuang ke toilet. Sebaiknya ikuti petunjuk kemasan dan aturan pengelolaan limbah setempat.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.