Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bayi Terpapar Asap Karhutla, Orang Tua Wajib Kenali Tanda Bahaya Ini

Djanti Virantika , Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |16:05 WIB
Bayi Terpapar Asap Karhutla, Orang Tua Wajib Kenali Tanda Bahaya Ini
Bayi. (Foto: Freepik)
A
A
A

ASAP kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar bagi bayi dan anak-anak dibandingkan orang dewasa. Sistem pernapasan mereka masih berkembang, sementara frekuensi napas yang lebih cepat dapat membuat mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap ukuran tubuhnya.

Dokter spesialis paru dan pernapasan (pulmonolog) yang aktif berpraktik di Kalimantan Tengah, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISRD, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone pun mengingatkan orangtua agar tidak menunggu sampai bayi mengalami batuk parah atau sesak napas untuk mencari pertolongan medis.

Perubahan perilaku sehari-hari, seperti berkurangnya nafsu makan dan frekuensi menyusu, juga perlu diperhatikan. Paparan asap karhutla mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Pada kondisi tertentu, paparan tersebut dapat memperburuk gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko masalah kesehatan. Lantas, apa saja hal yang perlu diperhatikan terhadap anak di tengah paparan karhutla ini?

1. Mengapa Bayi dan Anak-Anak Lebih Rentan terhadap Asap Karhutla?

Menurut dr. Itna, bayi dan anak-anak memiliki karakteristik pernapasan yang berbeda dari orang dewasa. Frekuensi napas normal orang dewasa saat beristirahat umumnya sekitar 12–20 kali per menit. Sementara itu, bayi dan anak-anak bernapas lebih cepat, meskipun rentang normalnya berbeda menurut usia.

Frekuensi napas yang lebih tinggi, ditambah ukuran tubuh dan paru-paru yang lebih kecil serta sistem pernapasan yang masih berkembang, membuat anak-anak lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini dapat memicu peradangan, memperburuk asma, dan menyebabkan gangguan pernapasan lainnya.

Risiko tersebut perlu mendapat perhatian khusus ketika karhutla berlangsung dalam waktu lama dan kualitas udara memburuk.

2. Jangan Tunggu Bayi Sesak Napas, Kenali Perubahan Perilakunya

Bayi belum dapat menyampaikan keluhan seperti orang dewasa. Karena itu, orangtua perlu mengenali perubahan perilaku yang mungkin menjadi tanda awal gangguan kesehatan.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan ketika bayi berada di wilayah terdampak asap karhutla.

1. Bayi Tidak Menyusu Seperti Biasanya

Jika bayi tiba-tiba lebih jarang menyusu, menolak minum, atau tidak mampu menyusu sebanyak biasanya, orangtua perlu mencari tahu penyebabnya. Penurunan kemampuan menyusu dapat terjadi karena berbagai kondisi, termasuk gangguan pernapasan yang membuat bayi kesulitan mengoordinasikan kegiatan menyusu dan bernapas.

2. Bayi Terlihat Lebih Lemah

Bayi yang biasanya aktif tetapi mendadak terlihat lesu, kurang responsif, atau lebih sulit dibangunkan perlu segera diperiksa. Kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai kelelahan biasa, terutama jika disertai penurunan asupan ASI atau susu, batuk, maupun perubahan pola napas.

3. Batuk yang Semakin Sering

Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk. Jika batuk bayi semakin sering, tidak membaik, atau disertai demam dan kesulitan menyusu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Bayi yang mengalami batuk tidak selalu berarti terkena dampak langsung karhutla karena infeksi dan kondisi lain juga dapat menjadi penyebabnya. Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan penyebab yang tepat.

4. Napas Cepat atau Tampak Sulit Bernapas

Orangtua perlu memperhatikan apakah napas bayi terlihat jauh lebih cepat daripada biasanya atau tampak membutuhkan tenaga ekstra. Tanda bahaya antara lain dada bagian bawah tertarik ke dalam saat menarik napas, lubang hidung kembang-kempis, suara merintih saat bernapas, atau bibir tampak kebiruan.

Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, tampak kebiruan, atau sulit dibangunkan, segera bawa ke instalasi gawat darurat. Jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement