Dengan sekitar 7 juta orang terdeteksi hipertensi, target tersebut berarti sekitar 5,6 juta orang perlu mendapatkan penanganan. Namun, realisasi pengobatan yang baru mencapai sekitar 755 ribu orang menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara skrining dan tindak lanjut medis.
“Ini harusnya angkanya tuh 5,6 juta. Sekarang kita baru 755.000. Itu PR-nya kita,” kata Budi.
Budi menegaskan, masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi dapat memperoleh pengobatan secara gratis melalui puskesmas. Karena itu, pemerintah ingin memastikan program CKG tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dilanjutkan dengan penanganan hingga kondisi kesehatan pasien terkendali.
Ia menjelaskan, pasien hipertensi perlu menjalani pengobatan secara rutin dan memantau tekanan darahnya setiap bulan. Pemeriksaan berkala dibutuhkan untuk mengetahui apakah tekanan darah pasien sudah kembali terkendali.
“Padahal pengobatan ini sifatnya gratis, bisa dilakukan di Puskesmas. Nanti diharapkan sesudah berapa bulan kita kontrol, karena begitu dia diobati, tiap bulan harus diukur tuh tekanan darahnya,” ujarnya.