Menurut Ni Luh, pengembangan festival tersebut bisa menjadi daya tarik guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Terlebih, Prambanan Shiva Festival sejalan dengan tren perjalanan wisata yang menonjolkan pengalaman seni, alam, dan budaya lokal, termasuk perjalanan ziarah serta spiritual retreat. Tren tersebut tercatat meningkat berdasarkan Global Wellness Economy Monitor 2025.
“Pengembangan Prambanan Shiva Festival sejalan dengan tren perjalanan wisata. Jika kita lihat Global Wellness Economy Monitor 2025, ini mencatat meningkatnya minat terhadap pengalaman yang mendekatkan wisatawan pada budaya lokal, alam, dan masyarakat, termasuk melalui perjalanan ziarah dan spiritual retreat,” ucap dia.
Festival tersebut juga merupakan event tourism yang diproyeksikan berkembang pesat. Berdasarkan survei para ahli dalam Indonesia Tourism Outlook 2026–2027, event tourism bakal menjadi tren berwisata teratas di Indonesia pada 2027.
“Melalui perpaduan tradisi keagamaan, ekspresi seni, serta keagungan kawasan candi, Prambanan Shiva Festival dapat menghadirkan pengalaman spiritual dan budaya yang berdampak sekaligus menjadi daya tarik kunjungan wisatawan. Peluang ini semakin terbuka seiring pertumbuhan perjalanan wisnus dan kunjungan wisman,” ungkap Ni Luh Puspa.
Lebih lanjut, Ni Luh menjelaskan bahwa Prambanan Shiva Festival telah terbukti mampu mendongkrak kunjungan wisman dan memberikan dampak ekonomi signifikan. Pada puncak penyelenggaraan 2026 lalu, angka kunjungan mencapai 10.631 wisatawan, melibatkan 350 pekerja seni, serta mencatatkan perputaran ekonomi hingga Rp1,3 miliar.
“Kita tidak ingin pariwisata hanya berbicara soal angka. Kita ingin pariwisata memberikan dampak yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia,” tegas Ni Luh Puspa.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.