PENGALAMAN mendengar bisikan, melihat sosok yang tidak dilihat orang lain, hingga perubahan perilaku secara mendadak kerap dikaitkan dengan kesurupan atau gangguan gaib. Namun, dari sisi medis, kondisi tersebut juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu diperiksa lebih lanjut, termasuk gangguan psikotik seperti skizofrenia.
Di tengah masyarakat yang masih lekat dengan budaya, adat istiadat, dan kepercayaan spiritual, membedakan pengalaman yang dianggap supranatural dengan gejala gangguan kesehatan mental bukan perkara sederhana.
Pertimbangan latar belakang budaya, kondisi kesehatan, riwayat penggunaan zat, serta perubahan perilaku yang dialami seseorang diperlukan sebelum menentukan kemungkinan diagnosis. Lantas, bagaimana cara mengenali gejala skizofrenia yang perlu diwaspadai?
dr. Elly Tania Sp.KJ dari RS Sumber Waras Jakarta dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone mengatakan seseorang yang mengaku mendengar bisikan, melihat bayangan, atau merasa mengalami kejadian di luar kebiasaan tidak bisa langsung dinyatakan mengalami skizofrenia. Sebaliknya, pengalaman tersebut juga tidak bisa serta-merta dianggap sebagai gangguan gaib tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Penilaian perlu mempertimbangkan konteks budaya dan kebiasaan yang dijalani seseorang. Misalnya, apakah individu tersebut memiliki latar belakang keluarga atau tradisi tertentu yang berkaitan dengan ritual spiritual.
Meski demikian, latar belakang budaya bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Dokter juga akan melihat apakah muncul perubahan perilaku yang tidak biasa, terutama jika sebelumnya orang tersebut tidak pernah mengalami kondisi serupa.
Perubahan seperti berbicara kacau, menunjukkan perilaku yang sulit dipahami, mengalami emosi yang tidak stabil, atau mengaku mendengar suara dan melihat sesuatu yang tidak dialami orang lain perlu mendapatkan perhatian.
Jika perubahan tersebut terjadi secara mendadak atau terus berulang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis penting dilakukan untuk mencari penyebabnya.
“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan, karena kita hidup dalam keberagaman budaya dan adat istiadat. Oleh karena itu, kita perlu menelusuri latar belakang orang tersebut. Apakah sebelumnya dia pernah mengikuti ritual tertentu? Apakah dia memiliki pengalaman yang diyakini sebagai sixth sense, dianggap indigo, atau dipercaya menjadi media untuk masuknya roh, dan sebagainya?” ujar dr. Elly.
“Seperti yang kita ketahui, di beberapa daerah, termasuk Kalimantan dan Singkawang, masih ada tradisi tahunan yang melibatkan orang-orang yang dipercaya menjadi perantara atau memanggil roh. Hal tersebut merupakan bagian dari budaya yang masih dijalankan hingga saat ini. Jadi, believe it or not, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan konteks budaya dan kepercayaan yang dianut masyarakat,” lanjutnya.
“Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan dengan tradisi tersebut, ada pula yang tidak. Namun, jika seseorang tidak memiliki latar belakang keluarga atau pengalaman yang berkaitan dengan hal itu, lalu tiba-tiba mengalami perubahan perilaku, seperti berbicara kacau, berkata-kata tidak biasa, berperilaku tidak terorganisasi, emosinya labil, hingga melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut,” jelas dr. Elly.
Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, berperilaku, dan menilai kenyataan. Gejalanya dapat berbeda pada setiap orang.
Beberapa tanda yang dapat ditemukan antara lain halusinasi, seperti mendengar suara atau melihat sesuatu yang tidak dialami orang lain. Kemudian, ada waham, yaitu keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan kenyataan dan tetap dipertahankan meskipun terdapat bukti yang bertentangan.
Ketiga, ada pikiran atau pembicaraan yang tidak terorganisasi, sehingga perkataan sulit diikuti atau hubungan antargagasan menjadi tidak jelas. Perilaku juga tidak terorganisasi, termasuk tindakan yang tidak sesuai dengan situasi atau kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari.
Kemudian ada penurunan motivasi dan fungsi sosial, misalnya menarik diri dari lingkungan, mengabaikan kebersihan diri, atau kesulitan mempertahankan pekerjaan maupun pendidikan. Namun, mengalami satu atau beberapa tanda tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengidap skizofrenia. Diagnosis harus dilakukan oleh tenaga profesional berdasarkan pemeriksaan menyeluruh.

Perubahan pikiran, persepsi, dan perilaku tidak selalu disebabkan oleh gangguan psikotik primer seperti skizofrenia. Ada sejumlah kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
dr. Elly tekankan menelusuri kemungkinan penyakit fisik, termasuk infeksi yang melibatkan otak, seperti meningitis, maupun kondisi lain yang memengaruhi fungsi otak. Riwayat penggunaan zat tertentu juga perlu diperiksa. Beberapa jenis zat atau obat dapat memicu halusinasi, kebingungan, maupun perubahan perilaku, baik ketika digunakan maupun saat terjadi kondisi putus zat.
Durasi gejala juga menjadi bagian dari penilaian. Skizofrenia tidak dapat dipastikan hanya karena seseorang mengalami gejala selama dua minggu atau satu bulan.
Jika perubahan perilaku muncul mendadak, disertai kebingungan berat, penurunan kesadaran, demam, kejang, atau kondisi yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, pertolongan medis perlu segera dicari.
“Kita juga perlu memastikan apakah orang tersebut memiliki riwayat penyakit tertentu yang dapat memengaruhi otak, misalnya infeksi otak seperti meningitis atau kondisi lain, termasuk tumor otak. Penyakit-penyakit tersebut dapat memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang hingga mengalami perubahan secara mendadak,” ucap dr. Elly.
“Selain itu, perlu ditelusuri apakah orang tersebut menggunakan zat-zat tertentu beberapa jam, beberapa hari, atau sekitar satu minggu sebelum gejala muncul. Penggunaan zat tertentu juga dapat memicu perubahan persepsi, pikiran, dan perilaku,” lanjutnya.
“Setelah berbagai kemungkinan tersebut dievaluasi, dokter akan menilai gejala yang dialami, termasuk berapa lama gejala berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Jika gejala menetap selama berminggu-minggu, kondisi tersebut perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah berkaitan dengan gangguan kesehatan mental, termasuk gangguan psikotik,” jelas dr. Elly.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.