Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mitos atau Fakta: Banyak Makan Gula Bisa Ganggu Kesehatan Mental?

Nurrizka Nasywa Tsabitah , Jurnalis-Minggu, 04 Oktober 2026 |08:05 WIB
Mitos atau Fakta: Banyak Makan Gula Bisa Ganggu Kesehatan Mental?
Makanan manis. (Foto: Freepik)
A
A
A

KETIKA sedang stres atau bad mood, makanan manis adalah sesuatu yang sering dicari karena bisa membuat suasana hati lebih baik. Namun, terlalu banyak mengonsumsi gula justru disebut bisa berdampak pada kesehatan mental.

Lantas, apakah anggapan tersebut benar adanya ataukah hanya mitos semata? Pasalnya, konsumsi makanan yang mengandung gula kerap dilakukan setiap hari.

Makanan manis (Freepik)

1. Memengaruhi Suasana Hati

Melansir dari laman Healthline, sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara pola makan tinggi gula dengan perubahan suasana hati, kecemasan, hingga risiko depresi. Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara keduanya secara lebih jelas.

Saat lelah atau sedang banyak pikiran, makanan manis mungkin terasa seperti penyelamat. Namun, efek positif yang dirasakan setelah mengonsumsi gula belum tentu bertahan lama.

Penelitian pada 2017 dan 2019 menunjukkan bahwa makanan tinggi gula tidak selalu memberikan efek positif terhadap suasana hati. Bahkan, konsumsi gula dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati.

Artinya, mengandalkan makanan manis setiap kali sedang bad mood bukan cara yang ideal untuk menjaga suasana hati dalam jangka panjang. Ada risiko yang malah bisa ditimbulkan.

2. Kesusahan Mengatasi Stres

Ketika sedang cemas atau stres, tidak sedikit orang yang mencari makanan manis sebagai comfort food. Gula memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara karena memengaruhi respons tubuh terhadap stres.

Peneliti di Universitas of California menemukan bahwa konsumsi gula dapat menekan pelepasan kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres. Namun, efek tersebut bersifat sementara dan penelitian pada manusia masih terbatas.

Karena itu, makanan manis bukan berarti bisa digunakan sebagai cara untuk mengatasi kecemasan. Justru, mengandalkannya dapat membuat seseorang semakin terbiasa mencari gula ketika sedang stres.

 

3. Berisiko Depresi

Pemicu Krisis Kesehatan Mental yang Paling Banyak Ditemukan, Masalah Keluarga Jadi yang Utama

Pola makan tinggi gula diduga dapat memengaruhi peradangan dan keseimbangan mikrobioma usus yang kemudian berhubungan dengan kesehatan otak dan suasana hati. Salah satu penelitian di 2017 menemukan bahwa pria yang mengonsumsi setidaknya 67 gram gula per hari memiliki risiko diagnosis depresi 23 persen lebih tinggi dalam lima tahun dibandingkan yang mengonsumsi kurang dari 40 gram per hari.

Mengurangi makanan tinggi gula bukan berarti harus langsung berhenti total.  Rasa tidak nyaman bisa muncul apabila mengurangi gula secara tiba-tiba. Beberapa keluhan yang mungkin muncul antara lain mudah marah, lelah, bingung, atau merasa cemas.

Mengurangi makanan dan minuman manis secara bertahap bisa menjadi pilihan yang lebih mudah dilakukan. Daripada, kamu harus langsung menghilangkannya dari pola makan.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement