APA yang terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal di laut? Pertanyaan ini mungkin terdengar mengerikan, tetapi menjadi bagian penting dalam ilmu forensik, terutama ketika terjadi kecelakaan kapal atau pesawat di perairan terbuka.
Berbeda dengan jenazah yang berada di daratan, tubuh manusia yang berada di laut mengalami proses perubahan yang dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari suhu air, kedalaman, kondisi lingkungan, serta keberadaan organisme laut.

Karena itu, tidak ada satu jawaban pasti mengenai berapa lama jenazah dapat tetap utuh di laut. Dalam kondisi tertentu, tubuh dapat bertahan selama beberapa hari sebelum tanda-tanda pembusukan semakin jelas. Namun, pada lingkungan yang lebih hangat atau ketika tubuh menjadi sasaran hewan pemakan bangkai, proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Dilansir dari Scientific American, setelah kematian, bakteri dan mikroorganisme yang secara alami berada di dalam tubuh mulai memecah jaringan. Di daratan, proses ini dapat berlangsung relatif cepat karena tubuh terpapar lingkungan yang memungkinkan serangga dan hewan lain mengakses jaringan lunak.
Di laut, kondisinya berbeda. Air yang dingin dapat memperlambat aktivitas bakteri dan proses pembusukan.
Dalam kondisi perairan yang relatif dingin, jaringan tubuh dapat mengalami proses yang disebut adipocere. Adipocere sendiri merupakan perubahan lemak tubuh menjadi material menyerupai lilin akibat proses kimia dan biologis setelah kematian.
Proses tersebut dapat memperlambat penguraian jaringan tertentu. Namun, hal ini bukan berarti tubuh akan tetap utuh tanpa batas waktu. Perubahan fisik tetap berlangsung dan bagian tubuh tertentu dapat lebih cepat mengalami kerusakan.
Pada tahap awal setelah kematian, proses pembusukan mulai berlangsung. Seiring waktu, kulit dapat mengalami perubahan warna dan tekstur, sementara jaringan lunak secara bertahap mengalami penguraian.
Organisme laut juga berperan dalam proses tersebut. Kepiting, ikan kecil, dan organisme pemakan bangkai lainnya dapat memakan jaringan lunak, terutama pada bagian tubuh yang lebih mudah diakses.
Kondisi ini membuat proses perubahan jenazah di laut sangat berbeda dari proses dekomposisi di daratan.