JAKARTA - Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mampu menghadapi berbagai masalah. Karena itu, ketika anak mengalami kesulitan, tak sedikit orang tua yang refleks ingin langsung membantu.
Misalnya, saat anak lupa bawa tugas sekolah, bertengkar dengan teman, sulit mengerjakan soal matematika, atau kecewa karena tak terpilih dalam sebuah permainan. Rasanya memang sulit melihat anak kesusahan tanpa ikut turun tangan.
Melansir The Times of India, psikiater Daniel G. Amen mengungkapkan, kebiasaan terlalu sering menyelesaikan masalah anak justru bisa membuat mereka kurang percaya diri saat menghadapi persoalan sendiri. Ia menyarankan orang tua memberi anak kesempatan untuk mencari solusi sebelum langsung memberikan jawaban.
Salah satu cara sederhana yang disarankan adalah mengubah respons ketika anak datang membawa masalah.
Daripada langsung mengatakan, "Biar Mama atau Papa yang urus," orang tua bisa bertanya, "Menurut kamu, sebaiknya kita bagaimana?"
Pertanyaan sederhana seperti ini bisa mendorong anak untuk berpikir, mempertimbangkan pilihan, dan mencoba mencari jalan keluar sendiri.
Tujuannya bukan membiarkan anak menghadapi masalah sendirian. Orang tua tetap perlu berada di dekat mereka untuk memberikan dukungan dan memastikan pilihan yang diambil tetap aman.
Membantu anak memang merupakan bagian dari pengasuhan. Namun, jika setiap masalah langsung diselesaikan orang tua, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan.
Contohnya, ketika anak kesulitan menyusun puzzle. Orang tua mungkin tergoda langsung menunjukkan potongan yang tepat. Masalah pun selesai. Namun, anak jadi tidak mendapatkan pengalaman ketika mencoba, gagal, lalu akhirnya menemukan jawabannya sendiri.
Pengalaman seperti itu sebenarnya penting untuk membangun keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan. Kemampuan tersebut dikenal sebagai self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa ia dapat mengambil tindakan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Memberi anak kesempatan untuk menyelesaikan masalah sendiri bukan berarti orang tua harus diam dan membiarkan mereka menghadapi semuanya.
Ada perbedaan antara memberikan ruang untuk mencoba dan membiarkan anak menghadapi masalah serius sendirian. Misalnya, anak usia lima tahun bisa diberi kesempatan memilih mainan mana yang ingin dirapikan lebih dulu.
Namun, jika anak menghadapi perundungan di sekolah atau mengalami masalah emosional yang serius, orang tua tetap perlu turun tangan dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Kuncinya adalah menemukan keseimbangan. Orang tua tetap mendampingi, tetapi tidak selalu mengambil alih.
Saat anak menghadapi masalah, orang tua bisa bertanya, "Apa yang terjadi?", "Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan?" atau "Kalau kamu mencoba cara itu, kira-kira apa yang akan terjadi?"
Jika solusinya aman, biarkan anak mencobanya. Jika ternyata tak berhasil, pengalaman tersebut bisa menjadi pembelajaran untuk mencari cara lain.
Kesalahan kecil juga bisa menjadi bagian penting dalam proses belajar anak. Misalnya, anak lupa membawa tugas ke sekolah dan harus menjelaskan kepada gurunya. Atau, anak berselisih dengan temannya dan mencoba menyelesaikan masalah tersebut sendiri.
Melihat anak mengalami situasi seperti itu tentu tak selalu mudah. Orang tua mungkin ingin segera menyelesaikan agar anak tak merasa malu atau kecewa.
Namun, selama situasinya aman, membiarkan anak menghadapi konsekuensi dari kesalahan kecil bisa membantunya belajar memecahkan masalah. Orang tua juga bisa menunjukkan cara menghadapi rasa frustrasi tanpa langsung menghilangkan semua hambatan yang dihadapi anak.
Anak yang kuat secara mental bukan berarti anak yang tidak pernah menangis, tidak boleh merasa sedih, atau selalu mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Kekuatan mental justru berkaitan dengan kemampuan anak mengenali dan menghadapi emosi yang sulit, mencoba menyelesaikan masalah, menghadapi kegagalan, serta meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.
Karena itu, dukungan orang tua tetap penting. Anak membutuhkan sosok dewasa yang bisa memberikan rasa aman, menetapkan batasan yang sehat, sekaligus memberi mereka ruang untuk belajar mandiri.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.