Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Smartphone Pinky Syndrome, Gangguan pada Jari Kelingking Akibat Terlalu Lama Pegang HP

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 19 September 2026 |10:05 WIB
Mengenal Smartphone Pinky Syndrome, Gangguan pada Jari Kelingking Akibat Terlalu Lama Pegang HP
Main HP. (Foto: Freepik)
A
A
A

PENGGUNAAN ponsel pintar (smartphone) kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan pekerjaan hingga hiburan seperti scrolling media sosial, gadget hampir selalu ada di genggaman.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada kebiasaan sepele yang kerap tidak disadari banyak orang, yakni menopang bobot ponsel menggunakan satu jari kelingking di bagian bawah. Jika dibiarkan terus-menerus, gaya memegang HP seperti ini ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan struktur tangan.

Smartphone Pinky Syndrome

1. Mengenal Smartphone Pinky Syndrome

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menyoroti fenomena tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap posisi tangan saat memegang perangkat seluler.

"Hayo ngaku, pas lagi pegang handphone pasti jari kelingking kamu posisinya di bawah buat nahan beban HP. Hati-hati, kebiasaan sepele ini bisa bikin bentuk jari kamu bisa berubah secara permanen," ujar dr. Aditya.

dr. Aditya menjelaskan bahwa dalam istilah medis, fenomena penekanan jari akibat bobot gawai ini sering kali disebut sebagai smartphone pinky syndrome. Meski istilah tersebut belum menjadi diagnosis medis resmi tersendiri, dampaknya terhadap fisik nyata adanya akibat tekanan mekanis yang terjadi berulang kali.

Menurut dr. Aditya, bobot ponsel pintar yang terus ditumpuk pada satu titik sendi kelingking dalam durasi panjang akan memberi beban berat pada area tersebut. Akibatnya, sendi dan jaringan lunak di sekitar kelingking mengalami tekanan konstan yang berpotensi memicu masalah kesehatan tangan.

"Selain itu, kalau kita bicara anatomi, sendi interphalangeal kelingking ini bisa mengalami peradangan akibat repetitive strain injury yang memicu nyeri dan kekakuan. Bahkan dalam jangka panjang, tekanan berlebih pada jalur saraf ulnaris itu juga bisa memicu sensasi kesemutan atau kebas di area jari manis dan kelingking," jelas dia.

 

2. Cara Atasi Smartphone Pinky Syndrome

Main HP

Kendati demikian, bukan berarti masyarakat harus berhenti total menggunakan ponsel pintar. Untuk mencegah timbulnya cedera maupun perubahan struktur jari, dr. Aditya membagikan sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan sehari-hari. Langkah pertama dengan mengubah cara memegang gawai secara lebih seimbang.

"Terus gimana solusinya, Dok? Apakah harus lepas HP sama sekali, enggak main 24 jam? Ya enggak juga. Kamu bisa mulai mengubah cara pegang dengan menggunakan kedua tangan saat mengetik atau pas scrolling. Dan ini juga handphone masih aman, tetap masih bisa scroll," ungkapnya.

Selain mengubah gaya memegang ponsel, penggunaan alat bantu tambahan juga disarankan untuk membagi distribusi beban perangkat agar tidak bertumpu di satu titik saja.

"Atau misalnya juga pakai aksesori penopang seperti phone grip atau popsocket supaya beban HP terbagi rata ke seluruh telapak tangan," tambah dia.

Tak kalah penting, dr. Aditya menekankan krusialnya memberi jeda istirahat bagi tangan saat beraktivitas dengan gadget. Peregangan berkala sangat dianjurkan guna menjaga kelenturan otot dan mencegah kekakuan sendi akibat penggunaan berdurasi lama.

"Dan yang paling penting, jangan lupa untuk mengistirahatkan tangan. Bisa juga lakukan stretching misalnya setiap 20 atau 30 menit sekali. Jadi ibaratnya jangan sampai 3 jam, 4 jam terus-terusan scroll dan pegang handphone, itu bahaya," pungkas dr. Aditya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement