Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dokter Ungkap Cara Cegah Penularan Influenza A di Sekolah, dari Cuci Tangan hingga Ventilasi

Djanti Virantika , Jurnalis-Jum'at, 18 September 2026 |21:05 WIB
Dokter Ungkap Cara Cegah Penularan Influenza A di Sekolah, dari Cuci Tangan hingga Ventilasi
Anak sekolah. (Foto: Freepik)
A
A
A

ORANGTUA perlu melakukan sejumlah langkah pencegahan ketika anak tetap harus bersekolah di tengah penyebaran influenza A. Pasalnya, seseorang yang sudah terkena influenza A belum tentu langsung menunjukkan gejala, tetapi tetap berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

Dokter Spesialis Anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone ungkap langkah-langkahnya. Ada sejumlah langkah yang perlu diperhatikan, dari cuci tangan hingga ventilasi di ruang kelas.

1. Cegah Penularan Influenza A di Sekolah

dr. Yogi menjelaskan anggapan bahwa virus hanya menular ketika seseorang sudah mengalami gejala merupakan hal yang keliru. Setelah virus masuk ke tubuh, terdapat masa inkubasi sebelum gejala muncul.

Menurutnya, masa penularan justru dapat berlangsung sebelum seseorang mengalami gejala. Risiko penularan disebut tinggi mulai sekitar satu hari sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya.

Artinya, anak yang terlihat sehat dan belum menunjukkan keluhan belum tentu bebas dari risiko menularkan virus. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di lingkungan sekolah yang mempertemukan banyak anak dalam satu ruangan.

“Jadi salah satu yang seringkali kita salah kaprah adalah berpikir virus ini menular pada saat gejala timbul. Padahal tidak,” ujar dr. Yogi.

“Jadi setelah kita ketularan, masa inkubasi mulai dari virus masuk sampai ada gejala, mungkin sekitar 1-4 hari. Nah kemudian masa penularan justru itu terjadi tinggi-tingginya 1 hari sebelum gejala timbul hingga kira-kira 5-7 hari setelahnya. Artinya apa? Artinya pada saat kita berada dalam satu komunitas yang orangnya ramai, dan kita juga enggak tahu siapa yang sudah terpapar. Maka teman-teman atau anak-anak yang belum bergejala itu bisa saja sudah mulai menularkan,” lanjutnya.

2. Anak Sakit Sebaiknya Tidak Dipaksakan Masuk Sekolah

Salah satu langkah penting yang perlu diterapkan adalah adanya kebijakan sekolah yang memungkinkan anak maupun guru yang sedang sakit untuk tidak masuk sekolah. Menurut dr. Yogi, ketidakhadiran karena sakit sebaiknya tidak diberikan sanksi selama disertai informasi yang jelas dari orangtua atau pihak terkait.

Kebijakan tersebut dinilai penting. Pasalnya, memaksakan anak yang sedang bergejala untuk tetap masuk sekolah justru dapat meningkatkan risiko penularan kepada teman-temannya.

“Harus ada kebijakan nih di sekolah. Kalau anak sakit, kalau guru sakit, maka boleh untuk tidak masuk cukup menginformasikan tanpa ada sanksi. Gitu ya. Kadang-kadang kan sekarang mungkin disiplin boleh, oke,” jelas dr. Yogi.

“Tapi dalam kondisi seperti ini, kalau dipaksakan anak yang bergejala untuk masuk, maka risiko penularannya tentu lebih besar,” lanjutnya.

3. Biasakan Anak Mencuci Tangan

Kebersihan tangan juga menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan penularan virus di sekolah. Karena itu, sekolah perlu memastikan tersedianya fasilitas untuk mencuci tangan.

Jika fasilitas cuci tangan dengan air mengalir tidak memungkinkan tersedia di setiap tempat, penggunaan cairan pembersih tangan dapat menjadi alternatif. Anak juga perlu diajarkan kapan harus membersihkan tangan.

Misalnya setelah batuk atau bersin, setelah menyentuh benda yang digunakan bersama, serta sebelum dan sesudah makan. Kebiasaan sederhana tersebut perlu dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

“Kemudian fasilitas cuci tangan itu tidak selalu tersedia. Tolong dipastikan di tiap ruang kelas, misalnya ada fasilitas cuci tangan,” tutur dr. Yogi.

“Kalau tidak memungkinkan cuci tangan dengan air mengalir, maka cuci tangan kering kan juga bisa dikerjakan, diajarkan di sekolah, kita kapan cuci tangan. Misalnya sesudah batuk, habis itu cuci tangan. Setelah kita menyentuh benda-benda yang sering dipakai oleh orang banyak, kita cuci tangan. Sebelum makan, sesudah makan kita cuci tangan,” sambungnya.

 

4. Perhatikan Ventilasi Ruang Kelas

Ilustrasi cegah Influenza A. (Foto: dok Magnific)

Selain kebersihan tangan, sirkulasi udara di ruang kelas juga perlu diperhatikan. dr. Yogi menyoroti kondisi ruang kelas yang menggunakan pendingin udara secara terus-menerus, terutama sistem AC sentral.

Dalam kondisi ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang kurang baik, virus yang keluar ketika seseorang batuk atau bersin berpotensi bersirkulasi di dalam ruangan. Karena itu, meski menggunakan AC, ventilasi tetap perlu dibuka pada waktu-waktu tertentu untuk membantu pertukaran udara.

Penggunaan kipas angin juga dapat dilakukan untuk membantu mengarahkan aliran udara. Selain itu, kipas juga bisa meningkatkan ventilasi.

“Kemudian ventilasi. Jadi juga menjadi masalah kalau di Jakarta itu rata-rata ruang kelas banyak yang kemudian full AC gitu ya. Nah, AC apalagi kalau sentral, itu dia circulated air. Udaranya ya situ-situ aja. Begitu ada satu yang batuk, virus dia bersirkulasi, ya kemudian akhirnya satu kelas akan kena. Sehingga walaupun misalnya menggunakan AC, ada waktu-waktu tertentu yang ventilasinya dibuka, kemudian mungkin bisa pakai kepas angin untuk mengarahkan biar terjadi pertukaran udara,” tutur dr. Yogi.

5. Bersihkan Barang yang Digunakan Bersama

Benda-benda yang digunakan secara bersama-sama di sekolah juga perlu mendapatkan perhatian. Mainan, peralatan belajar, meja, serta permukaan yang sering disentuh banyak orang sebaiknya dibersihkan secara berkala.

Sekolah dapat membuat standar operasional prosedur (SOP) mengenai kebersihan dan sanita. Dengan begitu, kegiatan pembersihan dilakukan secara rutin dan tidak bergantung pada situasi tertentu saja.

“Nah, kalau berbagi mainan, berbagi macam peralatan, itu pastikan permukaannya itu dibersihkan sering-sering. Jadi mungkin ada SPO-nya di sekolah,” ucap dr. Yogi.

6. Jangan Tutupi jika Ada Klaster Kasus

dr. Yogi juga mengingatkan pentingnya keterbukaan apabila ditemukan kasus yang terkonfirmasi di lingkungan sekolah. Jika muncul klaster kasus, pihak sekolah sebaiknya segera memberikan informasi kepada orang tua dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.

Menurutnya, pengalaman selama pandemi seharusnya menjadi pembelajaran. Dengan begitu, masyarakat tidak menutupi adanya kasus di lingkungan komunitas.

Informasi yang disampaikan kepada orangtua juga perlu diberikan secara tenang dan tidak menimbulkan kepanikan. Anak yang mengalami gejala atau diketahui terpapar dapat dipertimbangkan untuk tidak masuk sekolah sementara waktu sesuai kondisi dan arahan tenaga kesehatan.

“Kalau ada kluster kasus, jangan ditutup-tutupi. Kan kita sudah belajar cukup banyak pada saat pandemi ya,” ucap dr. Yogi.

“Jadi begitu ada yang jelas, confirm, ya diinformasikan saja di WhatsApp group. Tetap tenang, tapi mungkin kita break dulu, kita koordinasi dulu. Anak-anak yang bergejala atau terpapar, mungkin jangan masuk sekolah dulu,” lanjutnya.

7. Vaksinasi Juga Perlu Didukung

Selain menerapkan kebiasaan hidup bersih dan menjaga lingkungan sekolah, dokter turut menekankan pentingnya vaksinasi sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Menurutnya, kebijakan sekolah yang mensyaratkan bukti vaksinasi dalam proses pendaftaran dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong orang tua melengkapi vaksinasi anak. Dengan menerapkan berbagai langkah tersebut secara bersama-sama, risiko penularan penyakit di lingkungan sekolah dapat ditekan.

Pencegahan bukan hanya menjadi tanggung jawab anak atau orangtua. Tetapi, pencegahan juga membutuhkan dukungan dari sekolah, guru, dan seluruh komunitas.

“Dan dukung vaksinasi. Kalau sekolah mewajibkan untuk anak yang masuk mendaftar itu sudah divaksin atau menunjukkan bukti kalau sudah pernah divaksin, itu akan menjadi semacam mandatori untuk orangtua membawa anaknya untuk divaksin,” tutupnya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement