JAKARTA - Posisi tidur ternyata bisa mempengaruhi kualitas istirahat dan kondisi tubuh ketika bangun. Tak heran jika banyak orang mencari tahu posisi tidur yang paling baik, mulai dari telentang, menyamping, hingga tengkurap.
Namun, apakah benar ada satu posisi tidur yang paling ideal untuk semua orang?
Melansir British Vogue, para ahli mengatakan, sebenarnya tak ada satu posisi tidur yang paling baik untuk semua orang. Posisi yang tepat bergantung pada kondisi tubuh, kenyamanan, serta masalah kesehatan yang mungkin dimiliki seseorang.
Nah, daripada terlalu memikirkan posisi tidur yang dianggap paling benar, justru kamu harus memperhatikan kondisi tubuh saat bangun.
Jika seseorang bisa tidur sepanjang malam tanpa sering terbangun dan tak mengalami rasa sakit, posisi tidurnya kemungkinan sudah cukup nyaman. Sebaliknya, leher kaku, bahu pegal, atau tubuh terasa tak nyaman ketika bangun bisa menjadi tanda bahwa posisi tidur atau perlengkapan tidur perlu diperhatikan kembali.
Usia, bentuk tubuh, masalah otot dan sendi, kehamilan, refluks asam lambung, hingga sleep apnea juga dapat memengaruhi posisi tidur yang paling sesuai.
Bagi orang yang sering mendengkur atau mengalami sleep apnea, tidur menyamping dapat menjadi salah satu pilihan yang membantu.
Posisi ini bisa menjaga saluran pernapasan tetap terbuka sehingga mengurangi kemungkinan saluran tersebut menyempit saat tidur.
Tidur menyamping ke kiri juga dapat membantu orang yang mengalami refluks asam lambung.
Sebaliknya, tidur telentang pada sebagian orang dapat membuat lidah dan rahang bergerak ke arah belakang sehingga saluran pernapasan menjadi lebih sempit. Kondisi ini juga dapat lebih terasa ketika memasuki fase tidur REM, saat otot tubuh menjadi lebih rileks.
Meski begitu, posisi tidur bukan satu-satunya cara untuk mengatasi sleep apnea. Jika seseorang sering mendengkur keras, terbangun sambil tersedak atau megap-megap, mengalami jeda napas ketika tidur, atau sangat mengantuk pada siang hari, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Tidur tengkurap sering dianggap sebagai posisi yang kurang baik karena leher harus diputar ke salah satu sisi dalam waktu cukup lama.
Posisi tersebut bisa memberikan tekanan tambahan pada leher, bahu, dan punggung bagian bawah. Risikonya bisa lebih terasa jika seseorang memang sudah memiliki masalah pada otot atau persendian.
Namun, tidur tengkurap tidak otomatis buruk untuk semua orang. Jika seseorang nyaman tidur dalam posisi tersebut dan bangun tanpa mengalami rasa sakit, kaku, atau mati rasa, tak selalu ada alasan untuk mengubahnya.
Yang perlu diperhatikan adalah respons tubuh setelah tidur. Jika setiap bangun tidur leher atau punggung terasa sakit, posisi tengkurap mungkin perlu dievaluasi.
Pada akhirnya, tak perlu terlalu pusing mencari satu posisi tidur yang dianggap paling sempurna. Posisi tidur yang baik adalah posisi yang membuat tubuh nyaman, membantu tidur cukup, dan tak menimbulkan keluhan ketika bangun.
Jika tidur menyamping terasa nyaman, tak masalah. Begitu juga dengan tidur telentang atau tengkurap selama tidak menimbulkan nyeri dan masalah lainnya.
Daripada memaksakan diri mengikuti posisi tertentu, coba perhatikan kondisi tubuh setelah bangun. Jika sering mengalami leher kaku, bahu pegal, nyeri punggung, mati rasa, atau tidur terasa tidak nyenyak, mungkin sudah waktunya mengevaluasi posisi tidur, bantal, dan kasur.
Jadi, bukan posisi tidur yang harus selalu diubah, tetapi kenyamanan dan kondisi tubuh yang sebaiknya menjadi pertimbangan utama.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.